ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Mengenal TN Bantimurung Bulusaraung Titik Terakhir Hilangnya Pesawat ATR

Sabtu, 17 Januari 2026 | 17:36 WIB
S
S
Penulis: Sukarjito | Editor: JTO
Wilayah pencarian pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport yang disewa Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (PSDKP KKP) kini terfokus pada koordinat terakhir di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Sulawesi Selatan.
Wilayah pencarian pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport yang disewa Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (PSDKP KKP) kini terfokus pada koordinat terakhir di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Sulawesi Selatan. (Kementerian Kehutanan/Kementerian Kehutanan)

Jakarta, Beritasatu.com - Operasi pencarian pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport yang disewa Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (PSDKP KKP) kini terfokus pada koordinat terakhir di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Sulawesi Selatan.

Dilansir dari laman Kementerian Kehutanan, Taman Nasional (TN) Bantimurung Bulusaraung merupakan kawasan konservasi penting di Provinsi Sulawesi Selatan dengan luas 43.077,30 hektare. Kawasan ini mencakup wilayah Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), serta dikenal sebagai salah satu bentang alam karst terluas di dunia.

Sejarah kawasan ini tidak dapat dilepaskan dari Alfred Russel Wallace, naturalis asal Inggris yang melakukan eksplorasi pada 1857. Dalam karyanya The Malay Archipelago (1869), Wallace menyebut Bantimurung sebagai The Kingdom of Butterfly karena kekayaan spesies kupu-kupunya.

ADVERTISEMENT

Sejak dekade 1970-an, kawasan Karst Maros–Pangkep mulai ditetapkan sebagai wilayah konservasi, hingga akhirnya pada 18 Oktober 2004 resmi ditetapkan sebagai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung melalui SK Menteri Kehutanan.

Keunikan taman nasional ini terletak pada ekosistem karst yang lengkap, mencakup eksokarst berupa bukit kapur curam dan endokarst berupa gua-gua dengan ornamen speleotem yang spektakuler. Lebih dari 400 gua alam dan gua prasejarah tersebar di kawasan ini, menjadikannya laboratorium alam bagi penelitian geologi, biologi, dan arkeologi.

Bantimurung Bulusaraung juga dikenal sebagai habitat penting keanekaragaman hayati Sulawesi. Sedikitnya 20 jenis kupu-kupu dilindungi hidup di kawasan ini, termasuk spesies endemik seperti Troides helena dan Papilio adamantius.

Selain itu, taman nasional ini menjadi rumah bagi sembilan spesies mandat, antara lain Julang Sulawesi (Aceros cassidix), Macaca maura, kuskus beruang Sulawesi, elang Sulawesi, hingga babi kutil Sulawesi.

Dari sisi ekologi, kawasan ini memiliki peran vital sebagai daerah tangkapan air bagi sungai-sungai utama di Sulawesi Selatan, seperti Sungai Bantimurung, Pute, dan Walanae. Sistem hidrologi karst yang unik menjadikan kawasan ini penyangga air bersih sekaligus penopang pertanian dan kehidupan masyarakat di wilayah sekitarnya.

Secara topografi, kawasan taman nasional memiliki bentang alam yang beragam, mulai dari dataran hingga pegunungan, dengan puncak tertinggi mencapai 1.565 meter di Pegunungan Bulusaraung. Iklimnya termasuk tipe D menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson, dengan curah hujan tinggi dan suhu rata-rata 27-33 derajat celsius.

Dalam rencana pengelolaan jangka panjang, Bantimurung Bulusaraung diarahkan menjadi destinasi ekowisata karst berkelas dunia. Pengembangan pariwisata berbasis konservasi diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa mengorbankan kelestarian ekosistem. Dengan kekayaan alam, sejarah, dan nilai ilmiah yang dimiliki, taman nasional ini menjadi salah satu aset konservasi paling strategis di Indonesia.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon