ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Sesar Adang dan Gempa Sintang, Ancaman yang Tak Boleh Diabaikan

Jumat, 13 Maret 2026 | 15:54 WIB
S
S
Penulis: Sukarjito | Editor: JTO
Sesar Adang Kalimantan
Sesar Adang Kalimantan (Istimewa/Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com - Aktivitas sesar Adang diduga memicu gempa magnitudo (M) 5,0 di Sintang, Kalimantan Barat, Jumat (13/3/2026) dini hari. Struktur patahan lama ini masih menjadi sumber gempa lokal.

Getaran bumi sering datang tanpa peringatan. Kesunyian malam di wilayah Kalimantan Barat pecah ketika gempa tektonik mengguncang kawasan pedalaman pulau. Warga terbangun dari tidur, sebagian keluar rumah untuk memastikan kondisi sekitar.

Gempa M 5,0 mengguncang wilayah Kayan Hilir, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Jumat (13/3/2026) pukul 03.04 WIB. Getaran terasa hingga sejumlah daerah lain seperti Sintang, Sanggau, Katingan, Melawi, serta beberapa wilayah di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

Peristiwa tersebut bukan yang pertama. Riwayat gempa sebelumnya juga tercatat di kawasan ini. Catatan menunjukkan kejadian pada 23 Januari 2026 dengan magnitudo M 4.8, kemudian 22 Februari 2020 bermagnitudo M 3,0, serta 27 Maret 2019 bermagnitudo M 3,1.

ADVERTISEMENT

Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan aktivitas tektonik masih berlangsung di bawah Pulau Kalimantan. Intensitas gempa memang jauh lebih rendah dibanding wilayah lain di Indonesia.

Menurut anggota Pusat Studi Gempa Nasional Daryono, Pulau Kalimantan selama ini sering dipersepsikan sebagai kawasan yang hampir bebas gempa. Letak geografis pulau berada jauh dari zona subduksi aktif yang memicu banyak gempa besar di Indonesia.

Ia menjelaskan, Kalimantan lain dengan Sumatera, Jawa, dan Sulawesi berada dekat jalur pertemuan lempeng tektonik aktif, sehingga interaksi antarlempeng memicu deformasi kerak bumi secara intens sehingga aktivitas kegempaan terjadi lebih sering dan kerap menghasilkan gempa besar.

"Kondisi geologi Kalimantan berbeda. Posisi pulau terletak di bagian interior Paparan Sunda yang relatif stabil. Stabilitas tersebut membuat frekuensi gempa jauh lebih rendah dibanding kawasan lain di Nusantara," paparnya dalam keterangan tertulis, Jumat (13/3/2026).

Kondisi stabil tidak berarti sepenuhnya bebas aktivitas tektonik. Struktur patahan lama tetap tersimpan di bawah permukaan pulau. Pergerakan kecil pada struktur tersebut dapat memicu gempa lokal.

Salah satu struktur yang sering dikaitkan dengan gempa di Kalimantan adalah sesar Adang. Patahan regional ini memanjang melintasi Pulau Kalimantan dari pesisir timur menuju bagian barat laut pulau.

Gempa yang terjadi di Sintang pada Jumat (13/3/2026) dini hari itu diduga berkaitan dengan aktivitas struktur tersebut. Sesar Adang menjadi salah satu sumber gempa lokal yang perlu mendapat perhatian dalam kajian geologi kawasan.

Mengenal Sesar Adang

Struktur geologi ini dikenal sebagai sesar tua yang diperkirakan berkembang sejak periode Tersier. Karakter tersebut membuat aktivitasnya tidak seaktif sesar berumur Kuarter yang banyak ditemukan di Pulau Jawa maupun Sumatera.

Terusan Sesar Adang juga berkaitan dengan jalur struktur di kawasan Lupar. Wilayah ini berada di perbatasan Kalimantan Barat dan Sarawak, Malaysia, tidak jauh dari Kota Kuching.

Hubungan geologi antara sesar Adang dan jalur Lupar masih menjadi bahan kajian para ahli. Sejumlah penelitian menampilkan interpretasi berbeda mengenai kesinambungan struktur tersebut.

Jalur sesar diperkirakan bermula dari kawasan Teluk Adang di sekitar Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Struktur tersebut kemudian bergerak menuju pedalaman pulau.

Lintasan patahan diperkirakan melintasi wilayah Sintang, Sekadau, hingga Sanggau. Jalur ini kemudian berlanjut menuju kawasan perbatasan Indonesia dan Malaysia di sekitar Entikong.

Struktur tersebut diperkirakan tersambung dengan sistem patahan di wilayah Kuching, Sarawak. Rangkaian jalur ini menunjukkan adanya sistem struktur panjang yang melintasi bagian tengah Pulau Kalimantan.

Kajian ilmiah mengenai sesar Adang menghasilkan dua interpretasi utama. Teori pertama menyebut jalur patahan tersebut merupakan sistem kontinyu yang memanjang dari Laut China Selatan hingga Sulawesi.

Menurut Daryono, interpretasi tersebut melihat kesinambungan struktur tektonik regional dalam skala luas. Jalur patahan dianggap membentuk sistem panjang yang melintasi berbagai wilayah geologi di kawasan Asia Tenggara.

Teori kedua menyampaikan pandangan berbeda. Jalur Adang di Kalimantan Timur dinilai tidak tersambung dengan Jalur Lupar di Kalimantan Barat.

"Interpretasi ini menilai hubungan Adang–Lupar belum memiliki bukti kuat. Jejak struktur lapangan maupun data remote sensing belum memperlihatkan kesinambungan yang jelas," paparnya.

Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan kompleksitas struktur geologi Pulau Kalimantan. Aktivitas gempa kecil hingga menengah tetap menjadi indikator dinamika kerak bumi yang terus berlangsung.

Gempa Lokal

Gempa di wilayah Kalimantan Barat sering dikaitkan dengan aktivitas sesar tersebut. Wilayah sekitar Sintang dan Sekadau termasuk kawasan yang beberapa kali mencatat kejadian gempa lokal.

Magnitudo gempa yang muncul umumnya berada pada skala kecil hingga sedang. Kedalaman sumber gempa relatif dangkal sehingga getaran dapat terasa cukup kuat di sekitar episentrum.

Karakter gempa seperti ini dikenal sebagai shallow crustal earthquake. Sumber gempa berada di lapisan kerak bumi yang dangkal sehingga energi getaran tidak banyak teredam sebelum mencapai permukaan.

Perbedaan karakter terlihat jika dibandingkan dengan gempa yang bersumber dari zona subduksi. Gempa megathrust biasanya memiliki magnitudo jauh lebih besar dan kedalaman lebih dalam.

Gempa dari sesar lokal memiliki magnitudo lebih kecil, tetapi efek guncangan terasa kuat secara lokal. Kondisi tersebut terlihat pada gempa yang terjadi di Sintang ketika warga terbangun dari tidur.

Sebagian warga keluar rumah setelah merasakan getaran cukup kuat. Reaksi spontan tersebut mencerminkan dampak gempa dangkal yang terasa jelas meskipun magnitudo tidak terlalu besar.

Ancaman gempa di Kalimantan memiliki karakter berbeda dibanding wilayah barat Indonesia. Pola kejadian lebih bersifat sporadis dengan intensitas relatif kecil.

Posisi Pulau Kalimantan yang jauh dari batas lempeng aktif menjadi faktor utama kondisi tersebut. Interaksi antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia tidak memberikan pengaruh langsung seperti di Sumatra dan Jawa.

Deformasi tektonik di Kalimantan berlangsung lebih lemah. Aktivitas patahan lama tetap memungkinkan terjadi reaktivasi akibat tegasan regional yang bekerja di kerak bumi.

Perkembangan pembangunan di Kalimantan membuat kajian risiko gempa semakin penting. Infrastruktur modern, kawasan industri, serta pertumbuhan kota memerlukan perencanaan berbasis mitigasi bencana.

Probabilitas gempa besar memang relatif kecil. Prinsip kehati-hatian tetap perlu diterapkan. Gempa kerak dangkal dapat memicu dampak signifikan apabila terjadi dekat kawasan permukiman padat atau fasilitas vital.

Keberadaan sesar Adang menjadi pengingat stabilitas tektonik Kalimantan bersifat relatif. Aktivitas gempa memang jarang dan umumnya kecil, namun dinamika bumi tetap berlangsung di bawah permukaan pulau.

Kesadaran terhadap potensi gempa lokal menjadi bagian penting dalam membangun Kalimantan yang aman serta tangguh terhadap bencana.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Gempa Kalimantan M 7,2 Berasal dari Lempeng Baru?

Gempa Kalimantan M 7,2 Berasal dari Lempeng Baru?

OTOTEKNO
Catatan Sejarah Ungkap 10 Gempa Merusak yang Pernah Hantam Kalimantan

Catatan Sejarah Ungkap 10 Gempa Merusak yang Pernah Hantam Kalimantan

NUSANTARA

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon