ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Cavani Pensiun: Striker Mematikan yang Ikhlas Selalu Jadi Figuran

Selasa, 30 Desember 2025 | 09:34 WIB
WT
WT
Penulis: Wahyu Sahala Tua | Editor: WS
Edinson Cavani resmi pensiun pada usia 38 tahun, meninggalkan warisan sebagai penyerang tajam yang tetap rendah hati meski di bawah bayang-bayang bintang besar.
Edinson Cavani resmi pensiun pada usia 38 tahun, meninggalkan warisan sebagai penyerang tajam yang tetap rendah hati meski di bawah bayang-bayang bintang besar. (AFP/Paul ELLIS )

Jakarta, Beritasatu.com -  Striker legendaris asal Uruguay, Edinson Cavani, telah resmi mengumumkan pengunduran dirinya dari dunia sepak bola profesional pada usia 38 tahun, menutup tirai bagi karier penuh gol yang sering luput dari sorotan utama. Pengumuman ini datang setelah hampir dua dekade Cavani mengukir namanya di klub-klub elite Eropa dan tim Nasional Uruguay, puncaknya saat membela Paris Saint-Germain, Napoli, dan Manchester United.

“Terima kasih banyak sepak bola. Anda telah membentuk saya, menantang saya, mengajari saya untuk bangkit kembali saat saya jatuh, dan untuk menghargai setiap langkah dalam perjalanan ini. Saya pergi dengan damai, dengan ketenangan hati karena mengetahui bahwa saya telah memberikan segalanya di setiap sesi latihan dan setiap pertandingan,” tulis Cavani di akun media sosial miliknya yang dikutip Beritasatu.com, Selasa (30/12/2025). 

Di antara jajaran striker elite dunia, Cavani memang anomali. Ia terkesan bahagia berada di balik bayang-bayang superstar. Ia seakan ikhlas jadi figuran meski semua orang tahu dia adalah striker yang mematikan. 

Contohnya saat superstar Brasil, Neymar, secara resmi menandatangani kontrak dengan Paris Saint-Germain (PSG) pada Agustus 2017. Neymar pindah dari Barcelona ke Paris seolah tak ingin terus berada di bawah bayangan Lionel Messi. 

ADVERTISEMENT

Di ibu kota Prancis, Neymar langsung menemukan kenyamanan. Bersama sensasi remaja Kylian Mbappé dan penyerang senior Edinson Cavani, ketiganya dengan cepat mengukuhkan diri sebagai salah satu trio penyerang paling mematikan di dunia sepak bola.  Namun, di tengah sorotan utama yang selalu tertuju pada Neymar, dan perkembangan luar biasa yang terus ditunjukkan oleh Mbappé di kota kelahirannya, Cavani sering kali terkesan menjadi "pelengkap" di PSG.

Situasi ini bukanlah hal baru bagi penyerang asal Uruguay tersebut. Di awal kedatangannya di PSG, ia dipaksa bermain di posisi sayap selama tiga musim pertamanya, sementara Zlatan Ibrahimović memimpin lini serang sebagai ujung tombak utama. 

“Meskipun dibeli dengan harga yang cukup mahal, yakni € 65 juta, Cavani jarang ditempatkan pada posisi primernya sebagai penyerang tengah murni,” tulis These Football Times. 

Aksi striker Uruguay, Edinson Cavani berusaha melewati adangan pemain Korea Selatan pada laga Grup H Piala Dunia 2022. - (AFP)
Aksi striker Uruguay, Edinson Cavani berusaha melewati adangan pemain Korea Selatan pada laga Grup H Piala Dunia 2022. - (AFP)

Bukan hanya di level klub, situasi serupa kerap terulang di tim nasional Uruguay. Ia sering bergeser melebar ke sisi lapangan demi mengakomodasi posisi bagi Luis Suárez. Karena selalu berada di sekitar tokoh-tokoh yang lebih otoritatif dan mendapat sorotan, Cavani sering kali terabaikan sebagai seorang centre-forward kelas dunia.

Di era media sosial dan bias ingatan yang hanya menyoroti hal-hal terbaru (recency bias), sangat mudah untuk melupakan masa-masa keemasan Cavani di Serie A. Kariernya meledak saat ia membela Palermo dan Napoli, yang kemudian menarik perhatian klub-klub terkaya Eropa, termasuk PSG.

Palermo-lah yang menemukan penyerang jangkung ini, merekrutnya dari Danubio. Jauh sebelum pindah ke Italia, Cavani telah mewakili Uruguay di Piala Dunia U-20 2007 bersama Luis Suárez, di mana penampilannya di Kejuaraan Pemuda Amerika Selatan membuatnya menjadi pencetak gol terbanyak dengan tujuh gol, menarik minat klub-klub besar Italia.

Setelah berjuang merebut posisi starter di Palermo, Cavani pindah ke Napoli dengan status pinjaman, dengan opsi pembelian total sebesar € 17 juta. Di Napoli, Cavani menunjukkan performa yang sangat panas. Musim pertamanya ia mencatatkan 17 gol di semua kompetisi saat jeda musim dingin, melampaui total gol terbaiknya di Serie A, dan membantu Napoli finis di posisi ketiga untuk lolos ke Liga Champions.

Puncak tertinggi Cavani terjadi pada musim 2012/2013, yang menjadi musim terakhirnya di Italia. Ia mencetak 38 gol di semua kompetisi. 29 di antaranya di Serie A, meraih sepatu emas, dan membawa Napoli finis di posisi kedua. Paris memanggil, dan ia hengkang ke Prancis.

Ketika Ibrahimović pindah dari Paris ke Manchester United, Cavani langsung mengambil alih peran sentral di PSG. Ia mengakhiri musim 2016/2017 dengan 47 gol dari 47 pertandingan sebagai nomor 9 utama PSG. Hanya Lionel Messi yang mencetak gol lebih banyak darinya pada musim itu.

Edinson Cavani. - (AFP)
Edinson Cavani. - (AFP)

Meskipun segalanya berubah lagi dengan kedatangan Neymar dan Mbappé, Cavani tetap memimpin lini depan dan mencetak gol dengan rasio yang luar biasa. “Secara statistik, sebelum Mbappe muncul,  Cavani berhasil melampaui Ibrahimović untuk menjadi Pencetak Gol Terbanyak Sepanjang Masa PSG,” jelas These Football Times.

Setelah periode sukses tersebut, dan setelah kontraknya berakhir di Paris, Cavani mengejutkan banyak pihak dengan bergabung dengan Manchester United di Liga Primer Inggris pada Oktober 2020. Kedatangannya disambut dengan skeptisisme oleh beberapa pengamat, mengingat usianya dan statusnya sebagai transfer di hari terakhir jendela.

Namun, di Old Trafford, Cavani segera membuktikan kualitasnya. Ia menunjukkan etos kerja yang tinggi, pergerakan tanpa bola yang cerdas, dan penyelesaian akhir yang klinis, menjadi mentor bagi penyerang muda MU. Ia langsung menjadi favorit penggemar, terutama berkat keputusannya untuk mengenakan nomor punggung 7 yang ikonik.

Meskipun kariernya di MU hanya berlangsung selama dua musim, kontribusi Cavani sangat berharga. Ia mencetak 17 gol dari 59 penampilan di semua kompetisi dan membantu The Red Devils mencapai final Liga Europa 2021. Salah satu momen paling berkesan adalah gol tendangan lob jarak jauhnya yang fantastis melawan Fulham dan brace penentuannya melawan AS Roma di Liga Europa.

Setelah meninggalkan MU pada tahun 2022, Cavani sempat bermain singkat untuk Valencia di Spanyol sebelum kembali ke Amerika Selatan untuk membela Boca Juniors, di mana ia akhirnya memutuskan untuk gantung sepatu.

Kini, Cavani akan mengakhiri kariernya sebagai salah satu pencetak gol paling mematikan yang pernah dimiliki dunia sepak bola. Menariknya, ia melakukannya dengan beroperasi diam-diam di latar belakang. Sebuah pernyataan sikap yang sulit dimiliki oleh seorang striker yang ada saat ini. 

Akan sangat disayangkan jika dunia sepak bola gagal mengakui pencapaiannya ketika ia memutuskan gantung sepatu. Semuanya hanya karena ia ikhlas jadi figuran. 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon