Penalti Panenka Gagal Brahim Diaz Disebut sebagai Sikap Kurang Hormat
Selasa, 10 Februari 2026 | 06:49 WIB
Jakarta, Beritasatu.com — Penyerang tim nasional Senegal, Iliman Ndiaye, mengungkapkan pandangannya mengenai momen krusial pada final Piala Afrika 2025 yang mempertemukan Senegal dan Maroko di Rabat pada 19 Januari lalu. Ia menyentil kegagalan penalti panenka Brahim Diaz yang dinilainya menunjukkan sikap kurang menghormati lawan.
Laga final tersebut berlangsung penuh ketegangan dan kontroversi pada penghujung pertandingan. Maroko mendapat hadiah penalti ketika waktu normal hanya menyisakan 2 menit tambahan. Keputusan wasit sempat memicu protes keras dari para pemain Senegal, bahkan tim hampir meninggalkan lapangan sebelum akhirnya memilih melanjutkan pertandingan.
Brahim Diaz, yang tampil impresif sepanjang turnamen dengan torehan lima gol dari tujuh pertandingan, maju sebagai algojo penalti bagi Maroko. Namun, ia memilih mengeksekusi penalti dengan gaya panenka, yang akhirnya dengan mudah ditangkap kiper Senegal, Edouard Mendy.
Kegagalan tersebut membuat pertandingan berlanjut ke babak perpanjangan waktu. Senegal kemudian memanfaatkan momentum melalui gol Pape Gueye yang memastikan kemenangan 1-0 sekaligus membawa tim meraih gelar juara Afrika kedua mereka, sekaligus menggagalkan ambisi Maroko mengakhiri puasa gelar selama 5 dekade.
Setelah pertandingan, Diaz menyampaikan permohonan maaf melalui media sosialnya. Ia mengakui kesalahannya dan bertanggung jawab penuh atas kegagalan tersebut.
“Saya gagal dan menerima tanggung jawab sepenuhnya. Saya meminta maaf dengan tulus,” tulis Diaz.
Ia juga menambahkan, momen tersebut akan sulit dilupakan, tetapi ia bertekad bangkit demi para pendukung dan negaranya.

Namun, Ndiaye menilai keputusan Diaz mengambil penalti dengan gaya panenka dalam laga sepenting final sebagai tindakan yang kurang bijak. Dalam wawancara dengan media Inggris, ia mengaku sudah memperkirakan kegagalan tersebut.
“Kami semua mengatakan dia akan gagal. Saya bahkan terus berdoa agar dia gagal mengeksekusi penalti itu,” ujar Ndiaye, pemain Everton ini.
Ia menambahkan, gaya eksekusi tersebut memberi kesan seolah Diaz ingin tampil sebagai bintang setelah turnamen gemilang yang dijalaninya. “Saya merasa ada sedikit rasa tidak hormat. Saya tidak mengatakan dia sengaja meremehkan kami, tetapi mungkin dia ingin tampil seperti bintang setelah performanya sepanjang turnamen,” lanjutnya.
Ketika ditanya apakah ia akan mengambil risiko serupa dalam situasi final, Ndiaye mengaku ragu. Menurutnya, kesempatan seperti itu sangat langka dan menentukan nasib sebuah negara pada turnamen besar.
“Anda hanya beberapa menit lagi untuk menjadi pahlawan di negara Anda. Mereka sudah menunggu puluhan tahun, jadi saya tidak mengerti mengapa dia mengambil risiko seperti itu. Namun, saya senang dia melakukannya karena setelah itu kami yakin akan menang,” katanya.
Kontroversi pada akhir pertandingan juga berdampak pada sanksi dari Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF). Pelatih Senegal, Pape Thiaw, dijatuhi larangan mendampingi tim dalam lima pertandingan resmi CAF akibat dianggap berperilaku tidak sportif, sedangkan Ndiaye dan Ismaila Sarr mendapat hukuman larangan tampil dalam dua pertandingan.
Mengenang situasi panas tersebut, Ndiaye mengakui timnya sempat kehilangan kendali emosi. “Kami bingung dan marah karena merasa hampir kehilangan final. Namun, pada akhirnya kami tetap bersatu sebagai tim,” tuturnya.
Ia menambahkan, para pemain merasa keputusan penalti tersebut tidak adil setelah perjuangan panjang mereka sepanjang turnamen. Namun, situasi berubah ketika pemain senior mengambil peran menenangkan tim.
“Sadio Mane berkata, ‘Kita kembali ke lapangan dan selesaikan pertandingan.’ Itu yang akhirnya kami lakukan,” ungkap Ndiaye.
Ketika ditanya apakah para pemain menyadari konsekuensi besar jika benar-benar meninggalkan pertandingan final, Ndiaye mengatakan bahwa saat itu yang terpenting bagi mereka adalah mendapatkan perlakuan adil.
“Mungkin kami benar, mungkin juga salah. Namun, setelah perjalanan panjang di turnamen ini, kami hanya ingin memastikan semuanya berjalan adil,” katanya.
Terlepas dari kontroversi yang terjadi, pemerintah Senegal menyatakan siap memberikan dukungan penuh kepada pelatih dan para pemain yang terkena sanksi, sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan mereka membawa pulang trofi juara Afrika.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




