ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Seperti Sepakbola, Politik Semestinya Junjung Sportivitas

Sabtu, 10 Juli 2021 | 21:53 WIB
FS
WM
Penulis: Fana F Suparman | Editor: WM
Ilustrasi sepakbola.
Ilustrasi sepakbola. (Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com - Wasekjen DPP Partai Golkar, Sebastian Salang menilai, sepakbola dan politik memiliki banyak kesamaan. Meski berbeda bidang, keduanya merupakan seni untuk menggoreng bola, 'menipu' lawan, dan mendobrak pertahanan lawan untuk mencetak gol.

"Gol-gol itulah tujuan dari pertandingan itu sendiri," kata Sebastian Salang dalam diskusi daring 'Euro 2020/Copa America 2021, Politik dan Demokrasi di Tengah Pandemi' yang digelar Komite Pemilih Indonesia (TePI), Sabtu (10/7/2021).

Dalam sepak bola, terdapat aturan main yang wajib ditaati oleh setiap pemain dan tim yang berlaga agar permainan menjadi indah dan diterima seluruh pihak. Meski setiap pemain dan tim memiliki hak untuk memprotes, wasit menjadi penentu keputusan jalannya sebuah pertandingan. Dikatakan, seperti halnya sepak bola, dunia politik juga wajib menjunjung sportivitas.

"Ketika sudah diputuskan oleh wasit bahwa ini yang harus dilakukan. Apakah seseorang harus kena kartu merah, kartu kuning bahkan harus tendangan penalti ketika keputusan sudah dibuat maka semua pemain wajib menerima karena itu keputusan final. Itulah sportivitas dalam pertandingan dan gambaran seperti ini gambaran yang kurang lebih sama dalam politik," katanya.

ADVERTISEMENT

Dalam dunia politik, katanya, setiap pemain dan tim mempersiapkan diri untuk mengikuti kompetisi. Agar pertarungan politik berjalan adil, katanya, perlu adanya aturan main yang wajib ditaati.

"Baik sepak bola dan politik kurang lebih sama," katanya.

Dalam kompetisi sepak bola di kampung-kampung tidak jarang sampai babak final karena diwarnai keributan. Hal ini disebabkan ketidakdewasaan pemain maupun pendukung yang tidak menerima keputusan wasit, tidak menerima kekalahan atau tidak menerima cara bermain lawan.

Menurutnya, kematangan seorang pemain sepakbola ditempa dengan proses dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya. Demikian pula halnya dengan dunia politik. Sebastian menyatakan, tidak ada demokrasi yang tiba-tiba menjadi matang dan dewasa tanpa suatu proses.

"Demokrasi yang semakin matang itu yang melalui proses. Tidak ada demokrasi yang tiba-tiba menjadi matang dan dewasa dan menerima semua proses," katanya.

Untuk itu, Sebastian menilai sepak bola dan menjadi inspirasi dunia politik. Sebastian berharap para politikus Indonesia dapat semakin matang untuk menerima setiap proses demokrasi.

"Kalah menang suatu hal yang biasa dan pada akhir pertandingan berpelukan. Persahabatan dan persaudaraan dijunjung tinggi. Itu pesan penting dari sepak bola dan harusnya di politik juga begitu. Politik yang ugal-ugalan dan kaos itu gambaran proses politik menuju kematangan sedang terjadi. Saya kira kita di Indonesia sedang menuju ke sana. Ini proses yang tentu saja memakan waktu yang relatif panjang," kata Sebastian Salang yang merupakan mantan Koordinator Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi).



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon