ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Bom Katedral, Alasan dan Sejarah Kekerasan di Sulawesi

Selasa, 30 Maret 2021 | 08:32 WIB
FA
B
Penulis: Farouk Arnaz | Editor: B1
Petugas kepolisian berjaga di lokasi dugaan bom bunuh diri di depan Gereja Katolik Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu, 28 Maret 2021.
Petugas kepolisian berjaga di lokasi dugaan bom bunuh diri di depan Gereja Katolik Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu, 28 Maret 2021. (Antara)

Jakarta, Beritasatu.com - Mantan ketua Mantiqi (regional) IIII Jamaah Islamiah (JI), Nasir Abbas, punya analisis menarik tentang aksi bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan pada Minggu (28/3/2021).

Menurut Nasir, sejak pertama kali dirinya terlibat dalam konflik Poso, Sulawesi Tengah tahun 2001, jejak-jejak ideologi ekstremisme berbasis agama di Sulawesi sudah kental dan bisa bisa ditarik ke belakang.

Nasir saat itu sudah sering mendengar ucapan orang Sulawesi bahwa mereka bangga dengan perjuangan Kahar Muzakar.

Untuk diketahui di masa lalu mantiq III JI beroperasi di Mindanao, Sabah, Kalimantan Timur, hingga Sulawesi. Sedangkan Kahar adalah pendiri Tentara Islam Indonesia (TII) pada awal tahun 1950-an yang kemudian begabung dengan Darul Islam (DI) pimpinan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo.

ADVERTISEMENT

Kartosowirjo memimpin pemberontakan DI melawan pemerintah Indonesia dari tahun 1949 hingga tahun 1962, dengan tujuan mengamalkan Alquran dan mendirikan Negara Islam Indonesia berdasarkan hukum syariah.

"(Jejak itu jauh di belakang mulai TII), bom gereja di Manado, dan bom showroom Kalla di Makassar, serta aksi bom lainnya di Sulawesi. Jadi sebelum kini ada Jamaah Ansharu Daulah (JAD) yang berafiliasi ISIS, di masa lalu menunjukkan sudah ada sebagian orang Sulawesi yang setuju melakukan aksi bom," kata Nasir pada Beritasatu.com, Selasa (30/3/2021).

Menurut Nasir, keadaan makin menjadi-jadi saat ISIS dideklarasikan. Ada sebagian orang di Sulawesi yang setuju untuk berbaiat kepada Abu Bakar Baghdadi dan mereka otomatis menjadi anggota ISIS.

"Terlebih lagi ada kelompok JAD yang menjadi afiliasi ISIS yang mengakomodasi siapa saja yang setuju dengan ISIS. Belum lagi pada tahun 1996, sudah ada orang Sulsel dari kelompok Wahdah Islamiyah yang berlatih di Filipina, dan mereka memiliki kamp pelatihan sendiri.," urainya.

Orang-orang ini datang silih berganti. Bahkan di antara mereka pernah ditangkap di Manado karena berusaha menyelundupkan senjata api. Maka, bagi Nasir, Sulsel bukan saat ini saja menjadi homeground pelaku teror, tetapi baru sekarang saja semua diungkap.

Mengapa Katedral jadi sasaran, mantan alumnus kamp JI di Afghanistan ini melanjutkan, jika langkah JAD ini ada kaitannya dengan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang sama-sama mendukung ISIS. Otomatis JAD di Sulawesi juga membela MIT.

"Saat ini MIT tertekan dengan operasi aparat. Maka musuh MIT juga musuh JAD Sulawesi. Tapi ini juga sekaligus didorong rasa kebencian dan ingin membalas (dendam akibat konflik) di Poso dan Sulsel yaitu pada umat kristiani dan polisi," urainya.

Umat kristiani memang menjadi sasaran MIT karema alasan ketidakadilan sejak konflik Poso. Termasuk saat MIT membunuh dua warga Kristen pada November lalu di Pegunungan Kebun, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

"Mereka sudah lama merencanakan menarget umat kristiani  dan bom kali ini adalah pelaksanaan terhadap salah satu sasaran mereka," lanjut Nasir.

Seperti diberitakan pasangan suami istri L dan YSF yang baru menikah enam bulan lalu nekad menjadi aktor bom bunuh diri. Mereka mengendarai motor bernopol DD 5984 MD melakuka aksi bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar.

Pelaku dipastikan merupakan bagian dari kelompok JAD yang dulu juga pernah melakukan pengeboman di Katedral di Jolo Filipina.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon