MBG Lebak Disorot, BGN Benahi Porsi dan Harga
Minggu, 1 Maret 2026 | 16:34 WIB
Lebak, Beritasatu.com - Program makan bergizi gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto di Kabupaten Lebak, Banten, tengah menjadi sorotan publik. Sejumlah warga dan orang tua siswa menilai kualitas menu, takaran porsi, hingga nominal harga yang dicantumkan belum sebanding dengan sajian yang diterima keluarga penerima manfaat (KPM).
Menanggapi polemik tersebut, Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Lebak, Asep Royani, mengakui adanya evaluasi atas pelaksanaan program MBG. “Memang betul, akhir-akhir ini MBG di Kabupaten Lebak mendapat banyak sorotan. Ini menjadi bahan evaluasi kami,” ujarnya kepada Beritasatu.com, Sabtu (28/2/2026).
Asep menyampaikan pihaknya telah menerima teguran dari pimpinan dan saat ini tengah melakukan pendalaman serta pembenahan agar ke depan tidak ada lagi keluhan terkait menu MBG. “Kami sedang melakukan treatment dan pendalaman supaya tidak ada lagi komplain terkait menu,” katanya.
Menurutnya, evaluasi tidak hanya dilakukan di Lebak, tetapi juga di sejumlah daerah lain yang menjalankan program serupa. Terkait isu ketidaksesuaian harga, Asep menjelaskan lonjakan permintaan bahan baku untuk dapur MBG turut memengaruhi harga di pasaran.
Beberapa komoditas, seperti susu kotak full cream, roti, dan kacang-kacangan mengalami kenaikan harga akibat tingginya kebutuhan. Hal ini berdampak pada struktur biaya penyediaan menu. “Memang hampir semua bahan pokok yang sering digunakan di menu MBG mengalami kenaikan. Ini tidak bisa dihindari karena kebutuhan yang sangat tinggi,” jelasnya.
Meski demikian, Asep menegaskan BGN tidak akan menoleransi potensi penyelewengan oleh satuan pelayanan pemenuhan pelayanan gizi (SPG). Setiap laporan masyarakat akan ditindaklanjuti secara serius. “Kalau ada SPG yang kurang bijak dalam menyampaikan harga atau terindikasi menyeleweng, tentu akan kami dalami dan beri teguran,” tegasnya.
Dalam distribusi bahan baku, BGN menyebut sebagian kebutuhan sudah dipasok dari pelaku usaha lokal di Kabupaten Lebak. Roti, misalnya, kini diproduksi masyarakat setempat untuk mendukung program MBG.
Langkah ini dinilai memberi efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian daerah karena melibatkan UMKM dan produsen lokal. Namun, Asep mengakui belum seluruh komoditas dapat dipenuhi dari dalam daerah karena keterbatasan pasokan. Beberapa bahan pokok masih harus didatangkan dari luar wilayah.
Sebagai bentuk akuntabilitas, BGN akan memperkuat transparansi harga dan kandungan gizi. Pimpinan BGN telah mengarahkan agar setiap menu MBG diunggah ke media sosial lengkap dengan informasi nutrisi, deskripsi makanan, dan label harga.
Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan publik serta memastikan kualitas dan porsi makanan sesuai standar yang ditetapkan. “Ini bentuk pertanggungjawaban kami agar publik mengetahui kandungan nutrisi dan harga setiap menu yang disajikan,” pungkas Asep.
Ke depan, BGN berjanji terus melakukan inovasi dan peningkatan kualitas menu MBG, termasuk penyesuaian menjelang Ramadan agar lebih sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat di Kabupaten Lebak.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




