ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Siasat Parpol Raup Suara Pemilih Muda di Pemilu 2024

Rabu, 9 Agustus 2023 | 16:13 WIB
HR
FS
Penulis: Harrist Riansyah | Editor: FFS
Ilustrasi partai politik peserta Pemilu 2024.
Ilustrasi partai politik peserta Pemilu 2024. (Antara/Mohamad Hamzah)

Jakarta, Beritasatu.com – Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah mengumumkan sebanyak 204,8 juta pemilih masuk sebagai daftar pemilih tetap (DPT) di Pemilu 2024. Dari 204,8 juta pemilih itu, sekitar 60 persen di antaranya atau 116 juta pemilih berasal dari dua generasi, yaitu milenial dan gen Z. Kedua generasi ini sering dianggap sebagai generasi anak muda.

Banyaknya jumlah pemilih anak muda pada Pemilu 2024 menjadi target utama partai-partai politik untuk meraup suara demi kursi legislatif di tingkat daerah dan pusat.

Terdapat paling tidak dua cara yang sudah dilakukan oleh partai-partai politik untuk menarik perhatian anak muda, yakni pemanfaatan multiplatform media sosial serta kampanye yang kreatif dan menarik. Hal itu bertujuan untuk mengenalkan partai politik mereka kepada generasi muda yang diharapkan akan memilih parpol tersebut pada pemilu mendatang.

ADVERTISEMENT

Pemanfaatan Multiplatform
Di zaman yang serba-online seperti saat ini, para generasi muda banyak menghabiskan waktu di media sosial. Partai Golkar sudah melihat hal ini dan terlihat sangat gencar di berbagai media sosial untuk mempromosikan partainya. Tindakan ini pun didorong juga oleh Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Aburizal Bakrie.

Dilansir dari Beritasatu.com, Aburizal Bakrie mengatakan para politisi senior perlu aktif berselancar di media sosial untuk mendekatkan diri dan mengenal para pemilih dengan segmentasi anak muda. Hal senada juga dilontarkan oleh Wakil Ketua Koordinator Bidang Komunikasi Informasi Partai Golkar, Nurul Arifin yang menyatakan partainya mendorong para kader dan caleg aktif di sosial media demi mencapai target 116 kursi DPR.

Kreatif dan Menarik
Kita mungkin masih terngiang-ngiang lagu "PAN PAN PAN" yang terkenal beberapa bulan terakhir. Liriknya yang unik dan mudah dihafal membuat lagu ini terkenal di berbagai kalangan dan banyak yang membuat pelesetan dari lirik-liriknya.

Meski berhasil menjadi perhatian publik, lagu ini tidak lepas dari kritik. Salah satunya datang daru Ketua BEM UI 2023, Melki Sedek Huang.

Dalam akun Instagram-nya, Melki berpendapat munculnya lagu PAN PAN PAN ini memang merupakan lagu bagus dan bisa membuat candu di masyarakat. Namun, lagu ini juga memperlihatkan ketidakmampuan partai politik dalam memberikan ide dan gagasan.

Melki mengatakan masyarakat akan memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bukan dewan penari rakyat. Ia pun menekankan perlunya partai politik untuk menjawab aspirasi masyarakat khusunya generasi muda dibandingkan membuat lagu seperti itu.

Namun, terlepas dari pro-kontra, lagu itu memperlihatkan kemajuan PAN dalam mempromosikan partai dengan cara yang berbeda dari pemilu-pemilu sebelumnya.

Riwayat Partai Menggaet Anak Muda
Sebenarnya strategi merebut suara anak muda bukan pertama kali dilakukan partai politik. Pada Pemilu 2019, muncul Partai Solidaritas Indonesia atau PSI yang menggembar-gemborkan diri sebagai partai anak muda.

Dari iklan di media sosial yang gencar dilakukan hingga banyaknya kader-kader yang berusia muda, seperti Tsamara Amany, Rian Ernest, dan Michael Sianipar. Namun, hal itu ternyata tak mampu membuat PSI lolos ke Senayan karena tidak memenuhi ambang batas parlemen 4 persen. Bahkan, perolehan suara PSI di Pemilu 2019, yakni 1,89 persen masih kalah dengan Partai Berkarya besutan anak Presiden ke-2 RI Soeharto, Tommy Soeharto.

PSI terbilang hanya berhasil meraih kesuksesan di Jakarta dengan mendapatkan delapan kursi DPRD DKI. kegagalan PSI lolos ke Senayan dianggap banyak orang karena partai itu gagal menjawab kebutuhan kaum muda perdesaan yang memiliki perbedaan dengan kaum muda perkotaan. Selain itu, PSI dinilai terlalu fokus mengkritik kebijakan Pemprov DKI Jakarta yang saat itu dipimpin Anies Baswedan. Hal itu membuat PSI dicap sebagai partai ibu kota oleh netizen di media sosial. Belum lagi banyaknya kader muda mereka yang secara mengejutkan mengundurkan diri dari partai tersebut.

Melihat apa yang sudah terjadi pada PSI, partai-partai politik di Indonesia seharusnya tidak hanya mengikuti tren yang sedang booming di kalangan anak muda saja. Lebih dari itu, parpol harus bisa menjawab atau memberikan solusi atas aspirasi dan keresahan generasi muda. Hal ini mengingat generasi muda juga dikenal sebagai generasi kritis karena banyaknya informasi di media sosial dan internet.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Ironi Pilkada 2024, 9 Kepala Daerah Terjerat Korupsi hingga Maret 2026

Ironi Pilkada 2024, 9 Kepala Daerah Terjerat Korupsi hingga Maret 2026

NASIONAL
KPK Telusuri Dugaan Korupsi Private Jet KPU Rp 90 Miliar

KPK Telusuri Dugaan Korupsi Private Jet KPU Rp 90 Miliar

NASIONAL
Bukan Foya-foya! KPU Jelaskan Alasan Gunakan Jet di Pemilu 2024

Bukan Foya-foya! KPU Jelaskan Alasan Gunakan Jet di Pemilu 2024

NASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon