ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Pengamat: Lima Nama Bakal Menjadi Penantang Jokowi

Sabtu, 17 Februari 2018 | 11:26 WIB
RW
YD
Penulis: Robertus Wardi | Editor: YUD
Prabowo Subianto.
Prabowo Subianto. (Antara)

Jakarta - Analis politik dari Exposit Strategic Arif Susanto mengemukakan‎ dalam berbagai survei, nama Jokowi dan Prabowo diunggulkan sebagai calon presiden 2019. Sebagai politikus senior yang pernah berhadap-hadapan pada Pilpres 2014, keduanya memiliki jaringan dukungan meluas, di kalangan elite maupun massa.

"Dengan posisi sebagai presiden, Jokowi terlibat pengambilan kebijakan dan memperoleh ekspose media lebih besar dibandingkan Prabowo. Namun, dengan posisi sebagai Ketum Gerindra, Prabowo mampu membawa diri sebagai pemimpin oposan," kata Arif di Jakarta, Sabtu (17/2).

Ia menjelaskan‎ meski keduanya unggul, terdapat kemungkinan munculnya nama-nama lain, yang patut diperhitungkan sebagai ‘kuda hitam’. Misalnya, Anies Baswedan, Gatot Nurmantyo, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), atau Ahmad Heryawan.

Anies adalah politikus muda yang mengesankan diri santun, representasi kelompok Muslim, dan terdidik. Dengan posisi terkini sebagai Gubernur Jakarta, Anies dapat merebut perhatian publik di kancah politik nasional. Tidak berasal dari partai tertentu, Anies harus bekerja lebih keras untuk meyakinkan dukungan mereka. Dia juga butuh dukungan massa yang lebih meluas.

ADVERTISEMENT

Sementara itu Gatot bergema pada akhir masa jabatannya sebagai Panglima TNI. Dengan pengalaman teritorialnya, Gatot memahami lebih baik karakteristik umum masyarakat. Pun dengan ancaman tertib sosial yang kini menguat, Gatot bisa mengajukan diri sebagai pemimpin alternatif. Namun, usai purnawira, Gatot tampak hilang dari radar, apalagi dia tidak bergabung dengan partai tertentu.

AHY adalah nama populer dengan pengalaman politik paling minim. Leverage politik yang dimilikinya hanya dua yaitu dia putra SBY dan pernah bertarung memperebutkan posisi Gubernur Jakarta. Sulit mendapatkan dukungan di luar lingkaran politiknya yang masih terbatas, AHY membutuhkan terobosan politik seperti dilakukannya pada Pilkada Jakarta 2017.

Sebagai Gubernur Jawa Barat selama dua periode, Ahmad Heryawan (Aher) cukup populer di Jawa. Mendapat dukungan PKS dan cukup lentur berelasi dengan partai lain, Aher bisa mencuat secara nasional. Namun, terbatasnya ekspose dan basis dukungan dapat mempersulitnya.

"Untuk Jokowi, meskipun dia seorang petahana, masih ada beberapa hambatan yang dihadapinya. Prioritas pembangunan infrastruktur, misalnya, tidak otomatis mendongkrak dukungan terhadapnya karena dampak pembangunan yang berjangka panjang, sementara beban utang ditanggung dalam jangka berkelanjutan," jelas Arif.

Dia menambahkan‎ problem ancaman intoleransi dan penegakan hukum serta persoalan Hak Asasi Manusia (HAM) menjadi bagian dari catatan serius yang harus diperbaiki. Di luar itu, Jokowi harus menemukan pasangan yang tepat sebagai Cawapres dan komitmen lebih kuat dari partai-partai pendukungnya.‎



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon