ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Sudin LH Jakut Ungkap Penyebab Bau Tak Sedap dari RDF Plant di Rorotan

Sabtu, 24 Januari 2026 | 09:34 WIB
MA
MA
Penulis: Medikantyo Junandika Adhikresna | Editor: MA
Fasilitas pengelolaan sampah RDF Rorotan, Cilincing.
Fasilitas pengelolaan sampah RDF Rorotan, Cilincing. (Beritasatu.com/Humas Pemprov Jakarta/Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com – Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin LH) Jakarta Utara mengungkap penyebab bau tidak sedap yang muncul di Refuse Derived Fuel (RDF) Plant Rorotan, Cilincing. Hal itu rupanya disebabkan oleh tercampurnya sampah organik dan anorganik.

Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara, Edy Mulyanto, meminta masyarakat untuk mulai memilah sampah rumah tangga sejak dari rumah. Hal ini dinilai dapat mengantisipasi munculnya bau tidak sedap saat sampah dibawa menuju RDF Rorotan.

"Biar tidak bau, harus dipilah. Sampah kita dari rumah tangga itu harus dipilah. Kalau sampah anorganik saja yang ke RDF saya yakin tidak akan ada bau, tetapi kalau tercampur dengan organik, sehari aja pasti akan bau," ujar Edy di Jakarta, dilansir dari Antara, Sabtu (24/1/2026).

ADVERTISEMENT

Edy menuturkan, komposisi sampah di wilayah Jakarta Utara saat ini didominasi oleh sampah anorganik. Kondisi itu disebutnya berubah setelah pandemi Covid-19.

"Dahulu sebelum pandemi Covid-19, sampah organiknya lebih banyak, tetapi setelah pandemi malah kebanyakan sampah yang anorganik," kata Edy.

Menurut Edy, perubahan pola konsumsi masyarakat menjadi faktor utama meningkatnya sampah anorganik. Salah satunya disebabkan layanan pesan antar dan penggunaan kemasan sekali pakai.

"Sekarang apa-apa kan pesan lewat online, pakai kemasan. Paling isinya makanannya kecil. Jadi sekarang di Jakarta Utara sampah anorganiknya lebih banyak sekitar 51 persen dan organiknya 49 persen," ujar Edy.

Sebagai solusi, Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara mendorong pemanfaatan bank sampah di wilayah setempat. Sampah anorganik residu nantinya akan dikirim ke RDF Plant Rorotan untuk diolah menjadi bahan bakar alternatif pengganti batu bara.

"Untuk residunya dari anorganik akan di dorong ke pabrik RDF yang ada di Rorotan Cilincing untuk pengganti batu bara," katanya.

Edy menyebut, pengolahan sampah melalui fasilitas RDF memiliki efektivitas tinggi. Bahkan, terdapat nilai ekonomi yang berpotensi meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).

"Ternyata efektivitasnya itu cukup tinggi dan ada nilai cuan (keuntungan ekonomi) yang bisa dijadikan pendapatan asli daerah (PAD). Kalau sudah dijual bisa kerja sama dengan pabrik semen," ucap Edy.

Ia menambahkan, pabrik semen membutuhkan sekitar 8.000 ton sampah RDF setiap hari dengan nilai jual yang cukup tinggi. Satu ton sampah hasil olahan RDF, disebutnya bisa terjual hingga Rp 400.000.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon