CoF Naik, Pendapatan Bunga Multifinance Berpotensi Tergerus
Selasa, 17 Januari 2023 | 16:03 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Perusahaan multifinance belum banyak mentransmisikan kenaikan biaya dana atau cost of fund (CoF) terhadap tingkat bunga yang dibebankan debitur. Alhasil, pendapatan bunga bersih atau net interest margin (NIM) berpotensi mulai tergerus.
Direktur Utama Mandiri Utama Finance (MUF) Stanley Setia Atmadja menuturkan, perusahaan melihat kondisi pasar secara keseluruhan agar lending rate kepada debitur tetap kompetitif.
Apalagi suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dalam lima bulan terakhir secara akumulatif meningkat sampai dengan 200 basis points (bps) dan diyakini masih akan berlanjut naik di awal tahun ini.
"Kami juga memproyeksikan pendapatan bunga bersih akan sedikit tertekan di 2023. Karena kenaikan biaya dana, kami yakini tidak akan dapat diteruskan seluruhnya ke pricing atau lending rate ke nasabah," jelas Stanley, di Jakarta, Selasa (17/1/2023).
Senada, Vice Chairman of Executive Board Indomobil Finance Gunawan Effendi mengatakan, kenaikan tingkat bunga jual kepada debitur menjadi tantangan tersendiri pada tahun ini. Pasalnya, biaya dana yang meningkat seharusnya ditransmisikan kepada debitur belum secara masif dilakukan.
"Sebagian perusahaan multifinance belum menaikan bunga jual kepada debiturnya pada tahun 2022, walaupun bunga beli mereka sudah meningkat. Artinya, sebagian perusahaan multifinance tersebut akan mengalami sedikit kontraksi NIM, terutama pada paruh kedua tahun 2022," ungkap Gunawan.
Pada awal tahun 2023 ini, sambung dia, beberapa pemain di industri multifinance mulai menyesuaikan bunga jualnya sebagai antisipasi untuk bisa tetap menjaga rata-rata NIM pada kisaran angka tertentu.
Dampaknya, minat beli kendaraan akan menurun. Tapi hal ini bisa diantisipasi mengingat masih ada variabel diskon yang dapat disesuaikan oleh distributor maupun dealer supaya harga jual akhir kepada end user tidak naik terlalu tinggi.
"Secara umum NIM Indomobil Finance belum ada perubahan yang signifikan. Piutang yang outstanding masih lebih banyak dibandingkan dengan pembiayaan baru beberapa bulan terakhir, sehingga secara rata-rata tertimbang belum ada perubahan yang berarti," ujar Gunawan.
Dihubungi terpisah, Direktur Mandala Finance Christel Lasmana mengatakan, CoF diupayakan terjaga di level ideal dengan strategi funding yang telah perusahaan lakukan. Hal ini juga didukung dengan menjaga arus kas secara optimal, penyaluran pembiayaan dengan prinsip kehati-hatian yang tepat sasaran. Pada akhirnya langkah ini diharapkan dapat memastikan bisnis berjalan sehat sekaligus NIM sesuai target yang telah ditetapkan.
"Dengan menjaga kualitas penyaluran pembiayaan, kami terus menjaga kepercayaan yang diberikan oleh perbankan dan investor. Maka dari itu, kami yakin perusahaan dapat mengelola funding dan arus keuangan yang optimal, sehingga kami tidak melihat dampak yang signifikan terhadap NIM," jelas dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




