Kondisi Perbankan Indonesia Stabil, BI Tetap Waspadai Efek SVB
Minggu, 19 Maret 2023 | 17:52 WIB
Yogyakarta, Beritasatu.com - Bank Indonesia (BI) meyakini dampak penutupan tiga bank di Amerika Serikat -yaitu Silicon Valley Bank (SVB), Silvergate Bank, dan Signature Bank- tidak berpengaruh besar terhadap kondisi perbankan di Indonesia.
Dalam hal ini BI bersama tiga anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) lain yaitu Kementerian Keuangan(Kemenkeu), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terus melakukan komunikasi ke pemangku kepentingan lain untuk menjaga ekspektasi keberlangsungan pasar keuangan domestik.
"Bagaimana BI menjaga ekspektasi, ekspektasi dibangun atas kredibilitas. Kalau kredibilitas terbangun maka ekspektasi akan terjaga dengan baik. Tentunya support membangun ekspektasi adalah komunikasi, makanya kalau Anda lihat otoritas langsung menyampaikan komunikasi untuk membangun ekspektasi," ucap Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter BI Firman Mochtar dalam acara Pelatihan Wartawan di Royal Ambarrukmo, Yogyakarta pada Sabtu (18/3/2023).
Firman mengatakan BI juga melakukan stress test untuk melihat sejauh mana kekuatan sektor perbankan. Stress test dilakukan dengan melihat dari sisi portofolio, liabilitas, hingga aset yang dipengaruhi oleh indikator ekonomi makro. BI juga melakukan mitigasi terhadap perilaku pelaku pasar keuangan domestik setelah penutupan tiga bank di AS ini.
"Dimulai dari perilaku penempatan dana di negara berkembang termasuk Indonesia kan berpengaruh melalui nilai tukar. Dari sisi kebijakan moneter kita tentu akan mitigasi instability di pasar valas maupun di pasar keuangan," kata Firman.
Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Hayono mengatakan pihaknya tetap waspada meskipun kondisi perbankan Indonesia dinilai bisa mengantisipasi dampak tiga bank di Amerika Serikat. Oleh karena itu BI tetap berkomunikasi dengan seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga stabilitas sistem keuangan domestik
"Komunikasi di antara KSSK yaitu BI, Kemenkeu, OJK, dan LPS terus dilakukan, bahkan day to day untuk memastikan (stabilitas sistem keuangan). Kesimpulan dari diskusi itu memang masih menyatakan bahwa ketahanan perbankan Indonesia ini masih cukup bagus," tutur Erwin dalam kesempatan yang sama .
Dia mengatakan dari indikator perbankan terlihat meyakinkan misalnya rasio kecukupan modal perbankan (Capital Adequacy Ratio/CAR) sebesar 25,93% pada Januari 2023. Likuiditas industri perbankan di awal 2023 masih di atas threshold dengan rasio-rasio likuiditas yang terjaga. Rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) dan Alat Likuid/DPK (AL/DPK) pada Januari 2023 masing-masing tercatat sebesar 129,64% dan 29,13%. Rasio kredit macet (Non Performing Loan/NPL) net perbankan sebesar 0,76% dan NPL gross sebesar 2,59% pada Januari 2023.
"Angka CAD sebesar 25,93% jauh dari standar biasa. Sementara itu alat likuid kalau dibandingkan DPK sekarang angkanya 29% ini jauh dari 20%, artinya alat likuid perbankan kita secara keseluruhan jauh melebihi kebutuhannya," kata Erwin.
Mengenai stress test, Erwin mengatakan secara agregat kondisi perbankan Indonesia dalam kondisi bagus. Dia menuturkan setiap bulan Bank Sentral melakukan stress test kepada seluruh bank. Dari hasil analisis stress test BI dan dikonsolidasikan dengan analisis oleh OJK, kondisi perbankan di level agregat maupun di level individual masih cukup baik.
"Ada beberapa bank yang akan terkena (dampak) tetapi tidak sampai kolaps. Nah itu yang disampaikan stress test tidak hanya dilakukan mengacu pada kasus SVB jadi ketahanan industri perbankan kita yang sering disampaikan saya kira itu convincing," ucap Erwin.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




