Turis Tiongkok Belum Kembali, Ratusan Anggota Asita Bali Masih Nganggur
Jumat, 7 Juli 2023 | 08:10 WIB
Denpasar, Beritasatu.com - Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Bali, Putu Winastra, menyatakan bahwa pariwisata Bali belum pulih sepenuhnya meskipun jumlah kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara melalui Bandara Internasional Ngurah Rai mengalami peningkatan.
Dampak positif tersebut belum dirasakan oleh semua pelaku biro perjalanan di Bali. Sejak dibukanya penerbangan internasional pada Februari 2022, 250 dari 438 perusahaan biro perjalanan anggota Asita Bali masih tutup. Mayoritas biro perjalanan yang belum beroperasi saat ini adalah yang melayani wisatawan asal Tiongkok karena belum banyak wisatawan yang berkunjung ke Bali.
Putu Winastra menjelaskan bahwa sedikitnya kunjungan wisatawan asal Tiongkok ke Bali disebabkan oleh kurangnya penerbangan langsung dari kota-kota besar di Tiongkok menuju Bandara Internasional Ngurah Rai. Sebelum pandemi Covid-19, pada tahun 2019, jumlah wisatawan asal Tiongkok yang berkunjung ke Bali mencapai 2,5 juta. Saat ini, target kunjungan wisatawan asal Tiongkok hanya sekitar 250.000, yang berarti hanya sekitar 15% dari tingkat kunjungan pada tahun 2019.
Di tengah sedikitnya wisatawan asal Tiongkok di Bali, Asita Bali sedang melakukan perbaikan sistem pelayanan oleh biro perjalanan yang melayani wisatawan asal Tiongkok. Hal ini dilakukan karena sebelumnya terdapat stigma buruk terhadap pelayanan wisatawan asal Tiongkok yang dikenal dengan istilah "jual beli kepala". Asita Bali telah sepakat dengan agen biro perjalanan yang khusus melayani wisatawan Tiongkok yang juga anggota Asita untuk tidak lagi menggunakan konsep tersebut. Jika ada biro perjalanan yang melakukan praktik curang, Asita akan mengusulkan kepada pemerintah provinsi Bali untuk mencabut izin mereka.
Asita Bali berharap agar jumlah penerbangan langsung dari Tiongkok menuju Bandara Internasional Ngurah Rai semakin meningkat, terutama setelah pemerintah mencabut status pandemi Covid-19 menjadi status endemik. Hal ini diharapkan dapat mendukung target pemerintah dalam mencapai jumlah kunjungan wisatawan ke Bali pada tahun 2023 sebanyak 4,5 juta wisatawan, yang lebih tinggi dari target kunjungan pada tahun 2022 sebanyak 2,5 juta wisatawan. Sebelum pandemi Covid-19, pada tahun 2019, jumlah kunjungan wisatawan ke Bali mencapai 6,3 juta wisatawan.
Meskipun kunjungan wisatawan asal Tiongkok masih sepi, Asita Bali tetap melakukan promosi pariwisata internasional di Nusa Dua, Bali, yang dihadiri oleh 50 negara peserta. Dalam acara tersebut, Asita Bali menargetkan negara-negara Afrika dan Nigeria untuk mempromosikan pariwisata Bali, karena sebelumnya Asita Bali belum secara serius menjajaki wisatawan asal Afrika dan Nigeria.
Selama pandemi, banyak pelaku biro perjalanan di Bali harus menutup usahanya karena pemerintah menutup penerbangan internasional. Hal ini berdampak pada pertumbuhan ekonomi Bali yang minus 0,12% pada tahun 2020. Beberapa anggota Asita yang sebelumnya melayani wisatawan mulai beralih profesi dengan menjual makanan menggunakan kendaraan yang sebelumnya digunakan untuk mengantar wisatawan ke tempat-tempat wisata. Bahkan, banyak aset milik agen perjalanan yang dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup selama pandemi. Putu Winastra menyampaikan rasa syukurnya karena pandemi Covid-19 mulai pulih, yang memberikan dampak positif bagi pelaku pariwisata dengan peningkatan jumlah kunjungan wisatawan pada tahun 2022 sebanyak 2,5 juta, serta pertumbuhan ekonomi mencapai 6,4% pada kuartal pertama tahun 2023.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




