Sri Mulyani Sebut Penurunan Ekspor Pengaruhi Kinerja APBN
Senin, 24 Juli 2023 | 11:22 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, saat ini kondisi ekonomi global sedang berada tren pelemahan, yang memberikan dampak terhadap kinerja ekspor dan impor selama tahun 2023.
Catatan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, neraca perdagangan mengalami surplus US$ 3,45 miliar pada Juni 2023. Nilai ekspor pada Juni 2023 mencapai US$ 20,61 miliar, atau turun 5,08% dibanding Mei 2023.
Sedangkan nilai impor pada Juni 2023 senilai US$ 17,15 miliar, turun 19,4% dibanding Mei 2023. Surplus neraca perdagangan mencapai 708,66% jika dibandingkan Mei 2023, namun menurun 32,75% jika dibandingkan Juni 2022.
"Terlihat adanya perlambatan ekspor dan impor yang tentu akan sangat mempengaruhi kinerja APBN," ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita Edisi Juli 2023, Senin (24/7/2023).
Sri Mulyani menjelaskan, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2022, nilai ekspor mengalami kontraksi 21,2%. Hal itu, tidak terlepas dari lonjakan harga komoditas yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir sehingga saat terjadi normalisasi harga komoditas maka terjadi penurunan nilai ekspor.
"Kita lihat ekonomi dunia melemah permintaan terhadap barang ekspor juga mengalami penurunan serta harga komoditas mengalami koreksi. Sehingga kita lihat tren dari ekspor mulai mengalami penurunan dari sisi growth yang tadinya double digit sangat tinggi sekarang bahkan kontraksi," katanya.
Sri Mulyani mengatakan, meskipun terjadi pelemahan pada ekspor dan impor tetapi kinerja neraca perdagangan tetap terjaga. Sebab dengan surplus sebesar US$ 3,45 miliar menunjukan bahwa neraca perdagangan sudah surplus 38 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
"Ini adalah sebuah prestasi karena kalau kita lihat 38 bulan berturut-turut, neraca perdagangan kita surplus dan mempengaruhi penguatan sektor neraca pembayaran atau external balance kita," tandas Sri Mulyani.
Di sisi lain, Tim Asistensi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Raden Pardede mengatakan bahwa faktor harga dari komoditas sangat berpengaruh terhadap kinerja ekspor.
Jika melihat kondisi dalam beberapa tahun terakhir di tahun 2021 terjadi recovery pemulihan ekonomi dan di tahun 2022 terjadi kenaikan harga komoditas, sehingga ekspor tumbuh ekspansif.
"Tahun 2023 ini akibat dari perekonomian dunia yang melemah, demand terhadap barang melemah. Secara umum baik itu volume maupun dari sisi harga turun juga turun lebih dalam. Kalau kita lihat, harga komoditas benar-benar turun," ucap Raden.
Pemerintah berupaya mempertahankan surplus neraca perdagangan hingga akhir tahun 2023. Raden mengatakan dari sisi volume ekspor komoditas masih naik namun permintaan terhadap barang-barang seperti garmen dan produk manufaktur lainnya secara umum terjadi pelemahan.
"Mungkin kita harus terima pelemahan ini dalam satu dua tahun ini kita harapkan dia akan rebound lagi di tahun 2025. Kalau 2024 masih agak sama seperti sekarang pola demand," tandas Raden.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




