Sri Mulyani Sebut 3 Tantangan Perekonomian Global, Apa Saja?
Senin, 24 Juli 2023 | 13:45 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati mengatakan perekonomian global masih menghadapi tantangan isu geopolitik, volatilitas sektor keuangan, dan pelemahan sektor manufaktur. Jika dilihat lebih dalam indikator Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur masih mengalami kontraksi.
"Kondisi global memang menunjukan pelemahan yang makin terlihat dari sisi indikator PMI manufaktur," ucap Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita Edisi Juli 2023, Senin (24/7/2023).
Berdasarkan kajian Kementerian Keuangan (Kemenkeu), sebanyak 61,9% negara G20 dan ASEAN mengalami kontraksi dengan nilai PMI di bawah 50. Adapun negara-negara yang mengalami kontraksi PMI adalah Amerika Serikat (AS), Eropa, Jerman, Prancis, Inggris, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Vietnam, Italia, Brasil, Afrika Selatan, dan Singapura.
"Pelemahan PMI negara-negara ini perlu kita waspadai, apakah ini kecenderungan melemah dan pada akhirnya mempengaruhi kinerja perekonomian global," tuturnya.
Sedangkan persentase negara dengan PMI ekspansi-melambat sebanyak 23,8% yang meliputi Tiongkok, Thailand, Filipina, India, dan Rusia.
Sementara itu, masih ada 14,3% yang termasuk dalam kelompok ekspansi-akselerasi. Dalam hal ini, indeks PMI yang termasuk dalam kelompok tersebut berada di atas 50. Adapun tiga negara yang termasuk dalam kelompok tersebut yaitu Indonesia, Turki, dan Meksiko.
"PMI Indonesia ekspansif akseleratif sebesar 52,5 pada Juni 2023 setelah sempat menurun mendekati 50. Artinya Indonesia terus bertahan pada posisi ekspansi, bahkan sekarang ekspansi akselerasi sementara sebagian besar negara-negara yang merupakan pelaku ekonomi dunia mengalami deselerasi atau kontraksi ini yang kita waspadai," katanya.
Sri Mulyani menambahkan, dari sisi domestik faktor permintaan dalam negeri masih terlihat optimisme yang cukup menggembirakan. Hal ini terlihat dari IKK (indeks keyakinan konsumen) sebesar 127,13 pada Juni 2023. Sedangkan mandiri spending index terjaga di 156,1 pada Juni 2023, angka ini sangat tinggi dibandingkan baseline yang sebesar 100.
"Inilah yang kita lihat memberikan keyakinan hingga kuartal II berbagai indikator Indonesia masih cukup positif. Namun tanda-tanda terjadinya rembesan dari pelemahan global mulai terlihat," pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




