Ekonomi Digital Indonesia Diproyeksi Capai US$ 360 M Sesuai Ramalan Google
Rabu, 25 Oktober 2023 | 09:26 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Ekonomi digital Indonesia diyakini masih akan terus tumbuh positif hingga tahun 2030 mencapai nilai US$ 220- US$ 360 miliar seperti diproyeksikan Google, Temasek, dan Bain & Company tahun 2022. Namun, hal tersebut akan tercapai dengan kontribusi perusahaan modal venture (venture capital/VC) lokal untuk mendukung pendanaannya.
Merujuk kepada laporan studi riset e-Conomy SEA dari Google, Temasek, dan Bain & Company tahun 2022, nilai ekonomi digital Indonesia mencapai US$ 77 miliar atau setara Rp 1.141,49 triliun pada 2022, tumbuh 22% dibandingkan tahun 2021 US$ 63 miliar atau setara Rp 933,91 triliun. Angka tersebut diprediksi akan terus tumbuh menjadi US$ 130 miliar pada 2025 dan mencapai US$ 220-360 miliar tahun 2030.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menyampaikan bahwa saat ini nilai ekonomi digital Indonesia sangat besar sekitar US$ 77 miliar pada 2022 dan diproyeksikan bisa mencapai US$ 220- US$ 360 miliar 2030. Pertumbuhan sejak 2019 cukup meyakinkan meski dihantui kesulitan pendanaan karena melemahnya investasi perusahaan modal ventura yang masuk ke perusahaan teknologi (startup) pada 2021 hingga 2022 atau disebut sebagai winter tech.
"Jadi, kalau memang kita lihat ekonomi digital Indonesia diketahui dalam 5 tahun terakhir meningkat, khususnya tahun 2019 sampai dari tahun 2021 memang meningkat. Namun, kemudian, pertumbuhannya tertahan oleh stagnasi investasi dari para investor (musin dingin/winter tech) pada 2021-2022," ujar Nailul dalam plenary session bertema "Digital Economy: New Sources of Growth" dalam acara BNI Investor Daily Summit (IDS) 2023, di Hutan Kota by Plataran, Senayan, Jakarta, Selasa (24/10/2023).
Dia menyebut, adanya pandemi Covid-19 telah mengakselerasi ekonomi digital Indonesia pada 2020-2022. Namun pada 2022, Indonesia juga mengalami puncak winter tech yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi digital nasional. Google telah menurunkan proyeksi ekonomi digital Indonesia pada 2025 menjadi US$ 130 miliar dari sebelumnya US$ 146 miliar.
Digital & Integrated Transaction Banking Director BNI Corina Leyla Karnalies menuturkan ekonomi digital ruang lingkupnya sangat luas. Pada masa pandemi Covid-19, masyarakat Indonesia mengikuti (shifting) proses digitalisasi secara masif. Ketika terjadi pembatasan sosial (lokdown) saat pandemi, perbankan dipaksa untuk mendigitalisasi layanannya karena kantor fisik bank harus ditutup.
"Dulu zaman pandemi, kami sebagai bank, harus menutup semua servis. Kantor cabang harus ditutup, pegawai tidak boleh masuk. Namun, kami tetap harus memberikan layanan buat masyarakat. Dari situlah, bank harus tetap memberikan layanan untuk masyarakat/pelanggan , sehingga kita dituntut digitalisasi," ungkap Corina.
Adapun CEO of Tiket.com George Hendrata menyampaikan rasa optimismenya dengan potensi pertumbuhan ekonomi digital Indonesia akan lebih besar ke depan. Nilai ekonomi digital Indonesia sekitar 40% dari nilai ekonomi digita Negara-negara di Kawasan Asia Tenggara yang mencapai US$ 194-200 miliar tahun 2022. "Kita juga telah selamat dari masa Covid-19 yang berat. Saat ini, industri pariwisata (termasuk di dalamnya industri online travel/OT) pun sudah mulai bangkit," ujar George.
Sementara itu, total pasar jasa perjalanan digital (online travel market) Indonesia yang merupakan bagian dari bisnis pariwisata tumbuh sekitar 2-3 kali lipat dari pertumbuhan produk domestik bruto (PDB). Jika pertumbuhan ekonomi sekitar 5%, total pasar online travel tumbuh berkisar 10%-15%. "Penetrasi online travel di Indonesia masih sekitar 45%. Padahal, di negara-negara maju, seperti Tiongkok sudah 60% atau di Amerika Serikat atau Eropa mencapai 80%," kata dia.
Dalam kesempatan yang sama President Director IBM Indonesia Roy Kosasih menuturkan, IBM yang berdiri sejak tahun 1937, terus meningkatkan infrastruktur teknologi di Indonesia, terutama di sisi digital. "IBM sudah banyak membangun infrastruktur perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software) yang dimanfaatkan oleh industri perbankan dan keuangan, termasuk di Indonesia. Perusahaan pun terus berusaha untuk meningkatkan guna memperbesar atau memperkokoh infrastruktur digital Indonesia ke depan," tutur Roy.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




