Tingkatkan Stok Pangan Nasional, Presiden Gelar Rakor di Bukittinggi
Selasa, 29 Oktober 2013 | 16:44 WIB
Bukittinggi - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengumpulkan jajaran menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II dan sejumlah gubernur di Bukittinggi, Sumatera Barat, Selasa (29/10) guna membahas langkah-langkah konkrit meningkatkan stok pangan nasional.
Langkah tersebut ditempuh dalam menghadapi perubahan iklim dan gejolak pasar pangan dunia.
"Pemerintah menyusun rencana aksi untuk meningkatkan produksi dan produktivitas pangan nasional. Solusinya adalah meningkatkan stok, bukan impor," kata Presiden saat memimpin rakor pangan yang digelar di Balai Sidang Bung Hatta, Istana Bung Hatta, Bukittinggi, Selasa (29/10).
Presiden yang didampingi Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, rencana aksi itu ditujukan untuk komoditas pangan strategis, seperti beras, gula, jagung, daging sapi, dan kedelai.
Dia mengatakan, rakor khusus digelar berkaitan dengan puncak peringatan Hari Pangan Sedunia yang akan diselenggarakan di Padang pada Kamis (31/10) mendatang.
Laman resmi kepresidenan menyebutkan, hadir Gubernur Sumatera Barat Iwan Prayitno, Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dan Wagub Jawa Barat Dedi Mizwar.
"Mari kita gunakan kesempatan ini untuk bersama menyusun rencana aksi yang sekaligus harus kita jalankan. Sekarang meski cukup, karena kebutuhan beras meningkat dengan tajam, ditambah gangguan perubahan iklim dan gejolak pasar beras dunia dan juga pengaruh eksportir beras dunia, kita butuh kecukupan stok beras yang besar," kata Presiden SBY.
Presiden mengatakan, pemerintah daerah dan pusat wajib berinteraksi satu sama lain, khususnya menyangkut langkah-langkah konkrit yang ditempuh dalam upaya meningkatkan produktivitas pangan. "Masalah ini juga akan saya sampaikan pada presiden terpilih nanti," kata dia.
Keharusan
Pada kesempatan itu, Presiden secara eksplisit mengungkapkan bahwa meningkatkan produksi dan produktivitas pangan adalah sebuah keharusan.
Saat ini, lanjutnya, dengan penduduk Indonesia yang mendekati 250 juta jiwa, kebutuhan pangan juga meningkat.
"Solusinya, tidak usah kita tuding sana sini. Solusi nyatanya adalah produksi pangan dalam negeri yang harus ditingkatkan. Kalau ada gejolak pangan, maka tidak harus selalu impor, kalau ke depan ketergantungan impor tinggi maka tidak baik bagi Indonesia," tegas Presiden SBY.
Dikatakan Presiden, masalah pangan terkait erat dengan produksi dan konsumsi, meskipun belakangan ini terjadi sirkulasi dan ketidakstabilan nilai tukar rupiah. "Namun intinya adalah urusan supply dan demand. Makin baik supply, maka harga akan stabil," kata Presiden SBY.
Dalam rakor tersebut hadir Menko Polhukam Djoko Suyanto, Mendagri Gamawan Fauzi, Menkeu Chatib Basri, Menteri Pertanian Suswono, Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo, Mendag Gita Wirjawan, Menteri PU Djoko Kirmanto, Mendikbud Muhammad Nuh, Menkes Nafsiah Mboi, Menteri PPN/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana, dan Menhub EE Mangindaan.
Hadir pula Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) Sutarto Alimoeso dan Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Hendarman Supandji.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




