Amerika Latin Bisa Jadi Pasar Alternatif Tujuan Ekspor RI
Kamis, 12 Desember 2013 | 12:51 WIB
Solo - Negara-negara dikawasan Amerika Latin di nilai bisa menjadi pasar alternatif tujuan ekspor RI di tengah perlemahan pasar tradisional Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Pasalnya karakteristik permintaan komoditas negara Amerika Selatan tersebut tidak jauh berbeda dengan pasar di AS.
Anggota Komisi XI DPR RI Arif Budimanta menjelaskan secara historis, Amerika latin merupakan pasar utama tujuan utama ekspor RI sebelum era 1970-an. Namun setelah era tersebut telah terjadi pergeseran tujuan ekspor pada kawasan AS, Eropa dan Asia Timur sehingga pasar ini terlupakan.
"Dari 70-an ke saat ini terjadi pergeseran tujuan ekspor, dulu ke Amerika Latin, sekarang ke AS, Eropa dan Asia Timur. Amerika latin terlupakan." Ujar Arif dalam acara Business Gathering Indonesia Eximbank di Solo, Jawa Tengah, Kamis (12/12).
Selain memiliki kesamaan karakter permintaan komoditas, pasar Amerika Latin juga dinilai sangat menarik karena pertumbuhan ekonomi dan perdagangan negara-negara di kawasan tersebut cukup pesat di tengah perlambatan yang terjadi di Eropa dan AS. Pertumbuhan tersebut dapat dilihat dari angka neraca perdagangan Amerika Latin yang terus meningkat, bertolak belakang dengan kondisi defisit yang terjadi pada neraca perdagangan RI sebelum November.
Dengan keunggulan pertumbuhan tersebut, pasar Amerika Latin dinilai potensial untuk kembali digarap sebagai tujuan ekspor. Dia juga ingin supaya pemerintah dan pengusaha eksportir tidak hanya terpaku pada pasar tradisional guna meningkatkan daya saing.
"Di Asia saja posisi neraca perdagangan kita defisit, apalagi dibanding Asia Timur dan China, neraca perdagangan kita negatif. Ke depan yang harus dimanfaatkan adalah Amerika Latin sebagai tujuan ekspor utama untuk menurunkan defisit itu," katanya.
Sebelumnya CEO produsen mebel premium PT Nagabhuana Aneka Piranti, Gunawan Wijaya, mengakui hingga kini Amerika Serikat (AS) hingga kini masih menjadi tujuan utama ekspor para pengusaha kecil dan menengah. Pasalnya permintaan terhadap barang-barang tertentu dari negara ekonomi terbesar dunia itu masih tetap tinggi walaupun masih dilanda kelesuan ekonomi global akhir-akhir ini.
Dia mencontohkan pada produk mebel kelas premium dimana permintaan AS terhadap produk olahan hasil alam itu masih tinggi. Hal ini karena sasaran ekspor tersebut merupakan kelas masyarakat yang berpenghasilan tinggi, yang tidak terkena dampak krisis.
"Porsi ekspor kami ke AS masih 70%, sisanya 20% ke Eropa dan 10% ke Asia Timur seperti RRT dan Korea. AS masih hebat, permintaannya masih tinggi disana karena behaviour tidak berubah ketika krisis," jelas Gunawan.
Dia mengaku saat ini tengah melakukan ekspansi pasar dengan mengincar pasar non tradisional, yakni Jepang. Namun upaya tersebut dinilai sangat sulit karena banyaknya hambatan berupa persyaratan tinggi yang harus dipenuhi.
Pasalnya negara Sakura itu menerapkan standar sangat tinggi terhadap produk olahan hasil alam untuk meminimalisir kerusakan lingkungan. Negara ini juga menuntut supaya desain produk mebel itu juga mudah diaplikasi pada ruang sempit mengingat keterbatasan ruang dalam setiap hunian masyarakat di perkotaan Jepang.
'Marketnya susah sekali. Jepang itu rumahnya kecil, jarak pandang dekat-dekat, jadi harus benar-benar bagus.
Jadi dengan semakin ketat peraturan-peraturan, saya rasa tantangannya semakin sulit," katanya menandaskan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




