Orang Indonesia Ingin Terus Bekerja di Usia Pensiun
Selasa, 11 Februari 2014 | 17:49 WIB
Jakarta - Inflasi dan nilai suku bunga yang lebih tinggi, serta depresiasi rupiah yang substansial di kuartal IV, mempengaruhi estimasi investor Indonesia terhadap membengkaknya pengeluaran masa pensiun, yang diperkirakan mencapai 61% dari pendapatan mereka saat ini. Angka ini meningkat dibandingkan kuartal III yang hanya 50%.
Investor saat ini berpikir untuk terus bekerja selama masa pensiun. Saat ini 75% orang Indonesia berpikir untuk terus bekerja, angka ini adalah yang tertinggi di Asia (54%). Angka itu juga naik dari jumlah 68% pada kuartal III.
Pasalnya, bila dihitung selama karyawan bekerja diusia 25-55 tahun maka tingkat penghasilannya baru 12,2%, ditambah pesangon 17,5%, lalu sisanya harus didanainya sendiri untuk mencukupi masa pensiunnya. Apalagi, 80% investor berharap akan melewati masa pensiun tanpa dukungan anak-anaknya.
"Walaupun 48% berpikir pensiun adalah waktu buat keluarga. Tapi, dengan pertanyaan yang kami ajukan memaksa mereka berpikir apa cukup uang yang dikumpulkan sekarang cukup buat pensiun," ujar Presiden Direktur PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Legowo Kusumonegoro.
"Dana pensiun investor pun yang dipotong dari gaji ternyata hanya cukup untuk sembilan tahun setelah umur 61 padahal harapan hidup bertambah sampai 77 tahun. Sehingga ada kesenjangan tujuh tahun."
Hal tersebut diutarakannya dalam konferensi pers pemaparan hasil Manulife Investor Sentiment Index (MISI) in Asia, di Jakarta, Selasa (11/2).
MISI ini sendiri dilakukan kepada 500 orang dengan umur diatas 25 tahun, lalu pendapatan minimum Rp 2 juta per bulan di Jakarta, Rp 1,5 juta di Medan dan Surabaya.
"Kami ingin memiliki investor yang paham dan pandai akan apa yang dibelinya. Lebih ke edukasi. Jumlah pemegang reksa dana kurang dari 1%, survei ini cara untuk kenalkan ke mereka," imbuh Director of Business Development of PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Putut Endro Andanawarih.
Secara regional, dari delapan negara yang disurvei didapatkan bahwa masa hidup penduduk di Asia akan bertambah lama lima tahun, di mana sebagian besarnya merasa pensiun mereka sudah cukup. Padahal, lebih dari setengahnya belum memulai perencanaan masa pensiun mereka secara ideal.
"Semua sudah tahu tentang dana pensiun, tapi penempatannya tidak optimal. Sebelum memilih investasi, investor harus tahu tujuannya berinvestasi dan jangka waktunya. Pilih disaat kondisi yang tenang. Investasi juga secara bertahap, tapi lebih dulu sisihkan pendapatan untuk bayar masa depan kita," ungkap Putut.
Lebih lanjut Putut juga mengutarakan bahwa biaya kesehatan di Indonesia dalam lima tahun terakhir tanpa disadari sudah naik lima kali lipat.
Adapun, secara keseluruhan sentimen masyarakat di kuartal IV bila dibandingkan kuartal III, menunjukkan hasil lebih baik, di atas rata-rata kawasan Asia. Di kuartal III ada pengumuman defisit neraca berjalan dan pelemahan rupiah atas dolar.
Sedangkan, di kuartal setelahnya, kebijakan pemerintah sudah menunjukkan hasilnya di mana neraca perdagangan surplus tiga bulan berturut-turut, volatilitas rupiah membaik, dan berita negatif global reda. "Ini memberikan sentimen positif ke responden," imbuh Putut.
Saham Makin Diminati
Pada kuartal IV 2013, perubahan sentimen di Indonesia terbesar dialami oleh saham dengan kenaikan 14 poin, disusul properti 9, rumah 7, reksa dana 3, investasi pendapatan tunai -6, dan dana tunai -8.
Saham sendiri diminati karena kondisi pasar yang sudah membaik. Kendati saham turun belakangan ini, tapi menurut Putut investor harus melihat jangka panjang karena itu merupakan kunci suksesnya.
Adapun, dana tunai masih sangat menonjol dan terus menjadi aset yang sangat populer, walaupun sentimen terhadapnya melemah. "Dana tunai turun drastis karena pengeluaran akibat kenaikan harga BBM, membuat daya beli menurun meski suku bunga naik. Bunga yang didapat tak dapat mengalahkan harga di kebutuhan pokok. Karena dengan angka inflasi 8% setiap Rp 1 juta uang tunai, daya beli akan berkurang Rp 7.000," ujar ia.
Terkait pengelolaan dana kas masyarakat, didapatkan bahwa 37% dari kekayaan responden ditempatkan di deposito maupun kas. 55% responden merasa belum cukup memegang dana tunai. Di mana, rata-rata investor menyimpan dana tunai rata-rata 10 bulan.
Selain itu, dalam mempersiapkan masa pensiun, 29% dari responden menyatakan mereka mempersiapkannya setelah menikah, 25% setelah bekerja sekian lama, 21% setelah punya anak.
Untuk diketahui, secara industri dana pensiun masyarakat Indonesia di 2013 dana kelolaannya dari 23 DPLK dan DPPK tercatat sebesar Rp 28 triliun. Di mana, jumlah pesertanya baru mencapai 3 juta di tahun 2012.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




