Indonesia Perlu Benih Jagung Bioteknologi
Selasa, 7 Oktober 2014 | 16:57 WIB
Jakarta -Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) meminta pemerintah untuk segera mengizinkan penggunaan benih jagung bioteknologi secara komersil.
Langkah ini dinilai dapat benar-benar mewujudkan swasembada jagung sebagai salah satu komoditas pangan pokok.
"Dari total produksi jagung sebesar 18,9 juta ton pada tahun 2013, pemerintah masih impor 3,5 juta ton jagung (Rp 3.800 per kilogram) untuk kebutuhan pakan dari negara-negara pengadopsi jagung bioteknologi, atau setara Rp 9,7 triliun devisa negara yang melayang ke luar negeri," kata Ketua GPMT Sudirman, kepada Beritasatu.com, Selasa (7/10).
Selain itu, dia mengatakaj, jagung bioteknologi memberi sejumlah keuntungan di antaranya memiliki tingkat keterlacakan (treaceability) yang sehingga lebih aman, kualitas dan rasa yang lebih baik serta lebih sustainable karena mengurangi penggunaan pupuk dan pestisida.
Sudirman mengatakan, proses pengkajian keamanan hayati yang lamban membuat proses perizinan komersialisasi benih bioteknologi di Indonesia mandeg.
Padahal benih yang dikategorikan sebagai genetically modified organism (GMO) atau rekayasa genetik (RG) ini sudah digunakan di 27 negara termasuk para pemimpin pasar jagung seperti Amerika Serikat (AS), Tiongkok, Brazil, Thailand, Filipina dan Vietnam.
"Vietnam saja setelah dua tahun melakukan uji coba akhirnya diizinkan menggunakan benih jagung bioteknologi, Filipina sendiri yang telah menggunakan bibit jagung hibrida sejak 12 tahun lalu mampu meningkatkan produktivitas menjadi 7 juta ton jagung per tahun dari semula 4 juta ton jagung per tahun," katanya.
Indonesia memiliki produktivitas jagung sebesar 3,5 ton per hektare (ha) yang dihasilkan dari daerah penghasil utama Jawa Timur, Lampung, Sumatera Utara dan Bogor. Dibanding Amerika Serikat (AS) misalnya yang mencapai 9,7 ton per ha, masih tertinggal 3 kali lipat. Tiongkok sendiri sebesar 5,6 ton per ha dan Argentina 6,5 ton per ha.
"Dalam lima tahun ke depan, permintaan jagung untuk pakan akan naik dua kali libat, kita harus menangkap peluang ini. Untuk itu kami sarankan ke presiden Joko Widodo (Jokowi) agar jagung menjadi prioritas, sesuai agenda nawacita ketujuh tentang kemandirian ekonomi dari kedaualatan pangan dan energi," tambahnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




