Impor Jagung Diprediksi Hanya 3 Juta Ton
Senin, 4 Mei 2015 | 18:55 WIB
Jakarta-Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Sudirman memprediksi, impor jagung tahun 2015 bisa ditekan hingga hanya 3 juta ton. Hal itu dapat dicapai jika upaya pemerintah menaikkan produksi jagung nasional melalui penambahan areal tanam (PAT) 1 juta hektare (ha) terealisasi. Seperti diketahui, Kementerian Pertanian (Kemtan) menargetkan, produksi jagung tahun 2015 mencapai 23-25 juta ton. Angka itu lebih tinggi dibandingkan RPJM Kemtan yang memproyeksikan produksi jagung tahun 2015 sebesar 20,31 juta ton. Pada 2014, produksi jagung nasional 19,03 juta atau naik skeitar 2,81% dibandingkan 2013.
Sudirman menuturkan, pada 2014, industri pakan ternak di dalam negeri memproduksi sekitar 15 juta ton pakan ternak. Kebutuhan jagung, kata dia, mencapai 7,5 juta ton dimana sekitar 3,1 juta ton dipenuhi dari impor. GPMT, kata dia, beranggotakan 68 perusahaan produsen pakan ternak yang memasok hingga 90% kebutuhan pakan ayam di dalam negeri. Saat ini, ujar dia, kapasitas terpasang industri pakan ternak nasional tercatat 20 juta ton.
"Tahun 2020, produksi pakan ternak diprediksi 30 juta ton sehingga kebutuhan jagung diprediksi mencapai 15 juta ton. Bayangkan, kalau tidak ada program ini, berapa impornya dalam 5 tahun lagi? Kalau upaya penambahan produksi 5 tahun ini berhasil dengan baik, ya kita berharap 3 juta ton (impor) cukuplah. Kalau tahun ini, hingga April 2015, kita sudah impor 1,2 juta ton. Kalau tanpa ada penambahan produksi, dimana konsumsi jagung kita naik 1 juta ton, berarti kalau kita impor sama saja (ada kenaikan). Saya takut akan ada tambahan satu juta ton lagi menjadi 4,1 juta ton. Upaya peningkatan produksi 5 juta ton itu pekerjaann yang luar biasa. Tidak pernah ada dalam sejarah dunia, produksi satu negara itu bisa naik hingga jutaan ton," kata Sudirman usai dialog Menteri Pertanian (Mentan) dengan Bupati dan Pemangku Kepentingan Dalam Upaya Pencapaian Swasembada Jagung di Jakarta, Senin (56/5).
Sementara itu, Mentan Amran Sulaiman mengatakan, jagung merupakan salah satu komoditas yang ditargetkan pemerintah bisa mencapai swasembada. "Kita masih mengimpor jagung sekitar 3,5 juta ton. Tahun ini, diupayakan sudah menurun dengan adanya bantuan pemerintah untuk 1 juta hektar (ha) lahan. Kita memberikan bantuan benih gratis, pupuk gratis, di 101 kabupaten. Bupati menyiapkan lahannya, kita salurkan bantuan. Harapannya peningkatan produksi jagung tahun ini bisa signifikan. Menurut data BPS, kebutuhan kita sekitar 20 juta ton jagung per tahun. Artinya, pasokan 3,5 juta ton dari impor ini yang harus kita tutupi," kata Amran.
Di sisi lain, Amran mengusulkan, HPP untuk jagung bisa dipatok sebesar Rp 3.150 per kilogram (kg) untuk pipilan kering dengan kadar air maksimal 15%. Angka itu, kata dia, sudah memperhitungkan biaya transportasi.
Selain itu, lanjut dia, Bulog akan diarahkan berekspansi untuk melakukan peran penyerapan atas jagung. Yakni, dalam rangka penyerapan produksi petani dan menjaga kestabilan harga.
Direktur Perencanaan dan Pengembangan Usaha Bulog Fadzri Sentosa mengatakkan, siap untu melakukan penyerapan, terutama ketika harga anjlok. Menurut dia, infrastruktur Bulog sudah siap, tinggal menunggu payung hukum untuk menjalankan peran tersebut.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




