ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Impor Pangan RI Diperkirakan Capai Rp 71 Triliun (1)

Rabu, 27 Mei 2015 | 07:42 WIB
TD
FB
Penulis: Thresa Sandra Desfika | Editor: FMB
Aktivitas bongkar muat gula impor di pelabuhan
Aktivitas bongkar muat gula impor di pelabuhan (Antara)

Jakarta -- Impor lima komoditas pangan strategis yang mencakup beras, gandum, jagung, kedelai, dan gula diproyeksikan mencapai 20,70 juta ton atau senilai US$ 5,43 miliar (Rp 71,85 triliun) tahun ini. Meski dari sisi nilai merosot 34 persen dari tahun 2014 sebesar US$ 8,21 miliar akibat menurunnya harga komoditas di pasar internasional, volume impor naik dibanding tahun lalu 20,30 juta ton.

Kementerian Pertanian (Kementan) secara khusus berupaya menaikkan produksi padi, jagung, dan kedelai di dalam negeri, agar impor menurun. Indonesia ditargetkan mencapai swasembada tiga komoditas pangan itu pada 2017. Sedangkan impor gandum sulit direm karena konsumsi makanan berbahan gandum meningkat, sementara itu Indonesia praktis bukan produsen gandum.

Demikian rangkuman wawancara Investor Daily dengan Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa, Ketua Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Sutarto Alimoeso, Ketua Umum Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) Franciscus Welirang, Ketua Dewan Kedelai Nasional (DKN) Benny Kusbini, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Sudirman, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman, serta Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Mereka dihubungi secara terpisah dari Jakarta, baru-baru ini.

Dwi Andreas menuturkan, tahun ini akan menjadi titik produksi beras terendah dalam tiga tahun terakhir karena faktor teknis di lapangan. Stok beras 2014 secara nasional, baik di Perum Bulog, pedagang, maupun rumah tangga, masih mencapai 6 juta ton. Namun, tahun ini berkurang 1 juta ton menjadi 5 juta ton.

ADVERTISEMENT

"Dengan total stok 5 juta ton jelas tidak cukup, apalagi lonjakan harga beras baru-baru ini sempat mencapai titik tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Lonjakan harga beras jelang Puasa dan Lebaran tahun ini akan drastis. Tahun 2014, menteri pertanian menargetkan produksi beras akan meningkat 8 persen, kenyataannya malah turun. Jadi, impor tidak bisa dihindarkan. Bila tidak dilakukan akan terjadi bencana pangan dan akan mendistorsi pasar," kata dia.

Tahun ini, impor beras untuk semua jenis, baik premium maupun medium, diperkirakan sedikitnya mencapai 1 juta ton. Sedangkan impor gandum/meslin diproyeksikan 7,7 juta ton dan kedelai 6 juta ton. Sementara itu, impor jagung diproyeksikan 3,2 juta ton dan gula mentah (raw sugar) sedikitnya 2,8 juta ton. Pada 2014, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), realisasi impor semua jenis beras hanya 815 ribu ton, gandum 7,5 juta ton, kedelai 5,7 juta ton, jagung 3,2 juta ton, dan gula 2,9 juta ton.

Sementara itu, mengutip data www.indexmundi.com, secara umum harga lima komoditas pangan strategis tersebut di pasar global menunjukkan tren menurun. Penurunan harga umumnya akibat melimpahnya suplai yang tidak dibarengi dengan naiknya permintaan. Harga padi misalnya, pada Oktober 2014 masih US$ 432,70 per ton, namun pada April 2015 tinggal US$ 392,41 per ton. Demikian juga harga gandum pada Oktober 2014 masih US$ 245,39 per ton, tapi pada April 2015 susut menjadi US$ 223,34 per ton.

Sedangkan harga jagung pada November 2014 sempat mencapai US$ 178,67 per ton, tapi pada April 2015 menjadi US$ 172,05 per ton. Demikian juga harga gula mentah, pada Oktober 2014 masih mencapai US$ 16,48 sen per pon, namun pada April 2015 hanya US$ 12 sen per pon.

Dwi Andreas menuturkan, selain Vietnam, Thailand sudah menawarkan beras kepada Pemerintah RI dengan harga murah. Sebab, Thailand surplus produksi 12 juta ton beras.

"Sementara itu, adanya pernyataan setop impor beras di awal tahun membuat para pengusaha, baik besar maupun kecil, berebut membeli beras dari petani untuk persediaan mereka. Sementara itu, Bulog sulit menyerap beras. Karena yang tahu data beras di petani itu pengusaha, mereka langsung memborong dari petani untuk menguntungkan dirinya. Seharusnya, pernyataan yang belum pasti jangan dirilis dulu," kata dia.

Sutarto Alimoeso mengungkapkan, perlu tidaknya impor beras ditentukan oleh sejumlah faktor. Ini antara lain produksi terganggu atau tidak, harga beras naik atau tidak, kemampuan pengadaan beras oleh Perum Bulog, serta kondisi stok nasional.

Berdasarkan pengalaman, stok akhir Perum Bulog minimal harus 2 juta ton, agar pada awal tahun berikutnya tidak ada gejolak harga. "Kalau stok akhir tahun ditargetkan 2 juta ton, namun sekarang stok Bulog hanya 1,3 juta ton, berarti butuh kerja keras yang luar biasa. Sementara itu, kalau stok di bawah itu dianggap lumrah, masalahnya bisa terjadi di awal tahun depan, karena biasanya paceklik dan rawan kenaikan harga," ungkap Sutarto.

Mantan direktur utama Perum Bulog itu mengatakan, berdasarkan pengalamannya, setidaknya pengadaan atau penyerapan yang harus dilakukan Bulog sebanyak 5 juta ton setara beras. Ini dengan mempertimbangkan penyaluran beras untuk rakyat miskin (raskin) hampir mencapai 3 juta ton, ditambah total stok di akhir tahun 2 juta ton.

"Dengan keharusan menyediakan 5 juta ton, sementara stok saat ini hanya 1,3 juta ton, berarti masih kurang 3,7 juta ton. Katakanlah di akhir tahun target pengadaan 2,7 juta ton tercapai, masih kurang berapa dari 3,7 juta ton itu? Biasanya, pada bulan-bulan seperti ini, pengadaan domestik harusnya sudah 60-70 persen dari target," kata dia.

Dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (26/5), Sekper Perum Bulog Djoni Nur Ashari mengatakan, perusahaan pelat merah itu telah menyerap beras petani sebanyak 1,1 juta ton. Stok per 25 Mei 2015 mencapai 1,3 juta ton, aman untuk penyaluran raskin dan operasi pasar 5,5 bulan ke depan.

"Kondisi kecukupan stok itu sudah mempertimbangnya penyaluran raskin yang mencapai 232 ribu per bulan, mengantisipasi operasi pasar (OP), dan kebutuhan jelang Puasa-Lebaran," paparnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Letjen Purn Ahmad Rizal Ramdhani, Intelejen dan Teritorial Pangan

Letjen Purn Ahmad Rizal Ramdhani, Intelejen dan Teritorial Pangan

OPINI
Legislator Dorong Gudang Bulog Lebih Dekat dengan Petani

Legislator Dorong Gudang Bulog Lebih Dekat dengan Petani

EKONOMI
Mengintip Wacana Tunjangan Beras Bulog bagi PNS

Mengintip Wacana Tunjangan Beras Bulog bagi PNS

NASIONAL
Indonesia Siap Ekspor 200.000 Ton Beras ke Malaysia Senilai Rp 2 T

Indonesia Siap Ekspor 200.000 Ton Beras ke Malaysia Senilai Rp 2 T

EKONOMI
Penyaluran Bantuan Pangan di Semarang

Penyaluran Bantuan Pangan di Semarang

MULTIMEDIA
Bulog Pastikan Kualitas 5,2 Juta Ton Stok Beras Tetap Terjaga

Bulog Pastikan Kualitas 5,2 Juta Ton Stok Beras Tetap Terjaga

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon