Wall Street Anjlok Setelah Imbal Hasil Obligasi Meroket, Dow Jones Menguap 231 Poin
Rabu, 17 Januari 2024 | 05:21 WIB
New York, Beritasatu.com - Bursa AS Wall Street termasuk Dow Jones melemah pada Selasa (16/1/2024) karena imbal hasil obligasi naik. Pergerakan bursa juga dipengaruhi kinerja pendapatan kuartal keempat 2023.
Dow Jones turun 231,86 poin atau 0,62% menjadi 37.361, S&P 500 terkoreksi 0,37% menjadi 4.765, dan Nasdaq Composite turun 0,19% menjadi 14.944,35. Bursa saham AS tutup pada Senin (15/1/2024) memperingati Hari Martin Luther King Jr.
Saham Boeing anjlok sekitar 7,9% setelah Wells Fargo menurunkan peringkat perusahaan menjadi equal dari overweight, di tengah masalah model 737 Max 9.
Saham AMD melonjak 8,3% menyusul komentar optimistis analis mengenai permintaan semikonduktor. Produsen cip tersebut mengejar Nvidia dalam perlombaan kecerdasan buatan, naik ke level tertinggi dalam 52 minggu. AMD dijadwalkan akan melaporkan kinerja kuartalannya pada 30 Januari.
Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun naik lebih 11 basis poin menjadi 4,064% setelah Gubernur Federal Reserve (The Fed) Christopher Waller dalam pidatonya mengindikasikan bank sentral kemungkinan melonggarkan kebijakan moneter lebih lambat dari perkiraan.
Beberapa bank besar merilis pendapatan kuartalan pada Selasa pagi. Goldman Sachs melaporkan laba dan pendapatan lebih baik dari perkiraan. Begitu halnya Morgan Stanley yang membukukan pendapatan lebih baik dari proyeksi pada kuartal keempat. Saham Goldman Sachs naik tipis 0,7%, sementara Morgan Stanley turun lebih 4%.
“Sejauh ini, bank-bank yang sudah melaporkan kinerja, secara umum baik. Saldo kartu kredit meningkat, tetapi (kami) juga mengalami pertumbuhan rekening,” kata strategi investasi di US Bank Asset Management, Tom Hainlin, dikutip CNBC International.
Sekitar 30 perusahaan S&P 500 telah melaporkan hasil kuartal keempat 2023. Dari jumlah tersebut, 78% telah melampaui ekspektasi pendapatan, menurut FactSet.
Investor juga menantikan data penjualan ritel Desember yang dirilis Rabu (18/1/2024) dan dapat memicu ketakutan resesi. Pertumbuhan ekonomi bisa saja tertekan jika belanja konsumen AS mengalami penurunan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




