BEI Optimistis Raih Transaksi Rp 140 Triliun lewat SPPA hingga Akhir 2024
Senin, 19 Februari 2024 | 15:14 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Kepala Divisi Pengembangan Bisnis 1 Bursa Efek Indonesia (BEI) Firza Rizqi Putra menyampaikan BEI optimistis mencapai target total transaksi efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) melalui Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA) senilai Rp 140 triliun hingga akhir 2024.
“Kita cukup optimistis dengan antusiasme pelaku pasar untuk memanfaatkan SPPA sebagai preferred trading platform untuk perdagangan fixed income,” ungkap Firza Rizqi Putra dalam konferensi pers Peluncuran versi baru SPPA di ruang seminar 3, BEI, Jakarta Selatan, pada Senin, (19/2/2024).
Menurut Firza, pada 2024 total transaksi melalui SPPA mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Secara year to date (ytd), transaksi melalui SPPA sampai dengan tanggal 19 Februari 2024 mencapai Rp 1,3 triliun per harinya. Sementara total transaksi per 16 Februari 2024 kemarin, mencapai Rp 32 triliun.
“Jadi ini memang meningkat cukup signifikan, kita juga melihat terdapat peningkatan dari nilai transaksi atas instrumen di luar dari fix rate government bond (FR), kita lihat memang pelaku pasar sudah mulai juga memanfaatkan SPPA sebagai price discovery, tidak hanya untuk seri FR tetapi juga seri sukuk, project based sukuk (PBS), surat perbendaharaan negara (SPN), termasuk government bills ini terus masuk dalam SPPA,” jelas Firza.
BEI memberlakukan perubahan peraturan perdagangan efek melalui SPPA yang telah disesuaikan bersamaan dengan peluncuran versi baru SPPA pada hari Senin (19/2/2024).
Pada SPPA versi baru ini terdapat peningkatan kapabilitas sistem serta penambahan fitur agar proses perdagangan menjadi lebih akurat dan efektif bagi para pengguna jasa.
Peningkatan kapabilitas SPPA kali ini mencakup penyediaan pengaturan batasan nilai minimum trading limit (enhanced counter party limit), acuan harga perdagangan, koreksi, dan pembatalan transaksi yang dilakukan langsung melalui SPPA. Selain itu penyempurnaan rekaman aktivitas transaksi yang lebih komprehensif dan dapat terintegrasi dengan sistem administrasi serta dealer system pengguna jasa SPPA.
“SPPA telah didesain sedemikian rupa untuk mengakomodasi kebutuhan pelaku pasar EBUS di Indonesia, mulai dari penyediaan layanan perdagangan over the counter (OTC) sampai dengan perdagangan melalui order book. Dengan demikian diharapkan dapat meningkatkan likuiditas dan efisiensi perdagangan EBUS Indonesia,” tutur Direktur BEI Jeffrey Hendrik.
Lebih lanjut, Jeffrey menyampaikan bahwa BEI senantiasa berdiskusi dan mendengarkan masukan dari para pelaku pasar EBUS, dealer utama, dan asosiasi terkait seperti Perhimpunan Pedagang Surat Utang (Himsadun) guna terus menyempurnakan kemampuan SPPA dan meningkatkan kenyamanan penggunaan SPPA dalam bertransaksi surat utang.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




