ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

BEI Pastikan Komunikasi Intensif dengan Investor dan Indeks Global

Selasa, 21 April 2026 | 14:31 WIB
AD
AD
Penulis: Alfi Dinilhaq | Editor: AD
Pengunjung berada di main hall Bursa Efek Indonesia, saat pembukaan perdagangan saham 2026, Jakarta, Jumat 2 Januari 2026.
Pengunjung berada di main hall Bursa Efek Indonesia, saat pembukaan perdagangan saham 2026, Jakarta, Jumat 2 Januari 2026. (Beritasatu Photo/David Gita Roza)

Jakarta, Beritasatu.com - Pejabat Sementara Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menegaskan, pihaknya akan terus memperkuat komunikasi dengan penyedia indeks global, termasuk MSCI, serta investor internasional.

Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya menghimpun masukan guna meningkatkan kualitas dan daya tarik pasar modal Indonesia ke depan.

"Kami akan terus berkomunikasi dengan index provider. Kami juga akan terus berkomunikasi dengan investor global untuk memperoleh masukan untuk penguatan pasar modal ke depan," ujar Jeffrey di Jakarta, Selasa (21/4/2026).

ADVERTISEMENT

Pada kesempatan yang sama, BEI juga menyampaikan apresiasi atas pengakuan MSCI terhadap empat proposal reformasi pasar modal yang telah diajukan Indonesia.

"Kami mengapresiasi bahwa empat proposal yang telah kami deliver di-acknowledge oleh MSCI," ujarnya.

Jeffrey menambahkan, komunikasi antara BEI dan MSCI terus berjalan secara rutin. Pertemuan terakhir antara kedua pihak bahkan telah dilakukan pada 16 April 2026.

MSCI mengakui langkah reformasi transparansi pasar modal yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), BEI, dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

Namun, MSCI masih melakukan evaluasi terhadap cakupan, konsistensi, dan efektivitas data baru, terutama dalam penentuan free float serta penilaian tingkat investabilitas pasar.

Dalam tinjauan indeks Mei 2026, MSCI memutuskan mempertahankan kebijakan sebelumnya untuk Indonesia, antara lain pembekuan kenaikan foreign inclusion factor (FIF) dan number of shares (NOS), tidak adanya penambahan konstituen baru dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta tidak dilakukan perpindahan saham ke segmen indeks yang lebih tinggi.

Selain itu, MSCI juga akan menerapkan kebijakan global terkait saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC), yang berpotensi menyebabkan penghapusan saham tertentu dari indeks.

MSCI juga membuka kemungkinan penggunaan data kepemilikan saham di atas 1% untuk menyesuaikan estimasi free float apabila dinilai relevan.

Dalam pengumuman tersebut, MSCI tidak menyinggung potensi perubahan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market.

Ke depan, MSCI akan terus berinteraksi dengan otoritas dan pelaku pasar di Indonesia, serta mengumpulkan masukan terkait implementasi kebijakan baru. Hasil evaluasi lanjutan dijadwalkan akan disampaikan dalam Market Accessibility Review pada Juni 2026.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Short Selling Masih Jadi Pertanyaan, BEI Bakal Temui MSCI

Short Selling Masih Jadi Pertanyaan, BEI Bakal Temui MSCI

EKONOMI
BEI Segera Klarifikasi Review MSCI Soal Penggunaan Bahasa Inggris

BEI Segera Klarifikasi Review MSCI Soal Penggunaan Bahasa Inggris

EKONOMI
Jeffrey Hendrik Dilantik Jadi Dirut BEI, Ini Daftar Direksinya

Jeffrey Hendrik Dilantik Jadi Dirut BEI, Ini Daftar Direksinya

EKONOMI
Antrean IPO Menyusut, 3 Perusahaan Siap Listing Akhir Juni-Awal Juli

Antrean IPO Menyusut, 3 Perusahaan Siap Listing Akhir Juni-Awal Juli

EKONOMI
IHSG Anjlok 11,92% Sepanjang Mei, OJK: Ketidakpastian Tinggi

IHSG Anjlok 11,92% Sepanjang Mei, OJK: Ketidakpastian Tinggi

EKONOMI
BEI Bantah Kabar MSCI Turunkan Status Indonesia ke Frontier Market

BEI Bantah Kabar MSCI Turunkan Status Indonesia ke Frontier Market

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon