BEI Pastikan Komunikasi Intensif dengan Investor dan Indeks Global
Selasa, 21 April 2026 | 14:31 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Pejabat Sementara Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menegaskan, pihaknya akan terus memperkuat komunikasi dengan penyedia indeks global, termasuk MSCI, serta investor internasional.
Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya menghimpun masukan guna meningkatkan kualitas dan daya tarik pasar modal Indonesia ke depan.
"Kami akan terus berkomunikasi dengan index provider. Kami juga akan terus berkomunikasi dengan investor global untuk memperoleh masukan untuk penguatan pasar modal ke depan," ujar Jeffrey di Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Pada kesempatan yang sama, BEI juga menyampaikan apresiasi atas pengakuan MSCI terhadap empat proposal reformasi pasar modal yang telah diajukan Indonesia.
"Kami mengapresiasi bahwa empat proposal yang telah kami deliver di-acknowledge oleh MSCI," ujarnya.
Jeffrey menambahkan, komunikasi antara BEI dan MSCI terus berjalan secara rutin. Pertemuan terakhir antara kedua pihak bahkan telah dilakukan pada 16 April 2026.
MSCI mengakui langkah reformasi transparansi pasar modal yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), BEI, dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
Namun, MSCI masih melakukan evaluasi terhadap cakupan, konsistensi, dan efektivitas data baru, terutama dalam penentuan free float serta penilaian tingkat investabilitas pasar.
Dalam tinjauan indeks Mei 2026, MSCI memutuskan mempertahankan kebijakan sebelumnya untuk Indonesia, antara lain pembekuan kenaikan foreign inclusion factor (FIF) dan number of shares (NOS), tidak adanya penambahan konstituen baru dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta tidak dilakukan perpindahan saham ke segmen indeks yang lebih tinggi.
Selain itu, MSCI juga akan menerapkan kebijakan global terkait saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC), yang berpotensi menyebabkan penghapusan saham tertentu dari indeks.
MSCI juga membuka kemungkinan penggunaan data kepemilikan saham di atas 1% untuk menyesuaikan estimasi free float apabila dinilai relevan.
Dalam pengumuman tersebut, MSCI tidak menyinggung potensi perubahan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market.
Ke depan, MSCI akan terus berinteraksi dengan otoritas dan pelaku pasar di Indonesia, serta mengumpulkan masukan terkait implementasi kebijakan baru. Hasil evaluasi lanjutan dijadwalkan akan disampaikan dalam Market Accessibility Review pada Juni 2026.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




