Indef Sebut Surplus Neraca Perdagangan Bukan Prestasi
Selasa, 16 Juni 2015 | 10:34 WIB
Jakarta - Untuk kelima kalinya secara berturut-turut, neraca perdagangan tahun ini kembali mencatatkan surplus. Mei lalu, surplus mencapai US$ 950 juta, sehingga surplus neraca perdagangan secara kumulatif Januari-Mei 2015 tembus US$ 3,75 miliar. Perdagangan migas masih menjadi penyumbang defisit US$ 1,98 miliar. Namun, perdagangan nonmigas mengalami surplus US$ 5,74 miliar.
Pencapaian itu menerbitkan optimisme bahwa neraca perdagangan sepanjang tahun ini bakal surplus dan tekanan terhadap defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) berkurang. Pada Januari-Desember 2014, neraca perdagangan menorehkan defisit US$ 1,88 miliar. Sedangkan pada Januari-Mei tahun lalu, neraca perdagangan mencetak defisit US$ 860 juta. Hingga kuartal I-2015, CAD mencapai US$ 3,84 miliar.
Meski demikian, pemerintah diingatkan untuk segera berbenah. Sebab, selain dipicu penurunan impor yang lebih tajam dibanding penurunan ekspor, surplus terjadi di tengah anjloknya impor bahan baku dan barang modal. Kondisi itu dapat menyebabkan pelemahan kondisi industri nasional dan menurunnya konsumsi domestik hingga beberapa waktu ke depan.
Pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus mengungkapkan, surplus neraca perdagangan Mei 2015 bukan prestasi bagi industri nasional. Hal itu justru merupakan sinyal bahaya, mengingat surplus dipicu penurunan impor yang lebih tajam dibanding penurunan ekspor. Kecuali itu, surplus terjadi di tengah anjloknya impor bahan baku dan barang modal.
"Penurunan impor menunjukkan permintaan industri terhadap bahan baku dan barang modal lemah, dan ini sekaligus menunjukan kondisi industri nasional juga sedang lemah," tutur dia kepada Investor Daily, Senin (15/6).
Dari sisi ekspor, kata dia, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak bisa dimanfaatkan untuk mendongkrak ekspor. Dengan kondisi industri nasional yang belum memiliki daya saing tinggi, Indonesia tidak akan bisa seperti di negara-negara lain yang sengaja melemahkan nilai tukar mereka guna menstimulasi ekspor.
"Fenemona ekspor yang terjadi di Indonesia saat ini menunjukkan kasus-kasus di negara lain yang sengaja mendevaluasi mata uang mereka untuk memancing kinerja ekspor, tidak bisa diterapkan di Indonesia," ujar dia.
Dia menambahkan, kegiatan ekspor di Indonesia melempem karena kondisi industri nasional diimpit beban berat, seperti, input (bahan baku dan barang modal) yang mahal, biaya energi (listrik, gas, bahan bakar minyak) yang juga mahal, serta upah minimum yang tinggi.
"Ditambah lagi, industri di Indonesia harus menghadapi masalah pendanaan perbankan yang mahal. Beban-beban itulah yang membuat industri sulit ekspansi," tandas dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




