Sri Mulyani Anggap Deflasi 5 Bulan Berturut-turut Berikan Dampak Positif bagi Daya Beli Masyarakat
Jumat, 4 Oktober 2024 | 13:09 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memberikan tanggapan atas terjadinya deflasi beruntun selama lima bulan berturut-turut, mulai dari Mei hingga September 2024. Ia memandang deflasi yang disebabkan oleh penurunan harga pangan sebagai hal positif bagi perekonomian Indonesia, terutama bagi konsumen dari golongan menengah ke bawah.
"Kalau deflasi ini lima bulan terutama dikontribusikan oleh penurunan harga pangan, itu menurut saya merupakan suatu perkembangan yang positif," ujar Sri Mulyani seusai acara AIFC ke-8 di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, pada Jumat (4/10/2024).
Ia menambahkan, penurunan harga pangan sangat memengaruhi daya beli masyarakat, khususnya di kalangan konsumen menengah bawah yang mengalokasikan sebagian besar pengeluarannya untuk kebutuhan makanan.
“Karena ini akan sangat menentukan daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah bawah dengan peranan pengeluaran untuk makanan itu paling besar,” tambahnya.
Sri Mulyani juga menekankan bahwa deflasi ini dipengaruhi oleh penurunan harga pangan yang masuk dalam kategori volatile food, dengan harga barang cenderung fluktuatif.
Menurutnya, stabilitas harga pangan ini diharapkan mampu menjaga keseimbangan harga yang rendah, sehingga memberikan manfaat bagi konsumen, terutama kelompok masyarakat dengan pengeluaran besar di sektor pangan. Penurunan harga tersebut diharapkan terus berlanjut untuk meringankan beban ekonomi kelompok menengah bawah.
"Penurunan dari volatile food ini adalah hal yang kita harapkan, karena dapat menciptakan harga makanan yang stabil dan rendah. Ini sangat baik bagi konsumen, terutama di kalangan menengah bawah yang mayoritas belanjanya dialokasikan untuk kebutuhan makanan," jelasnya.
Ia mencatat bahwa inflasi inti (core inflation) saat ini berada di sekitar 2%, sebuah angka yang merefleksikan adanya permintaan agregat dalam perekonomian. Inflasi inti sendiri merupakan indikator penting yang dikembangkan oleh Bank Indonesia untuk memantau tekanan harga dari sisi permintaan, di luar faktor fluktuasi harga pangan dan energi.
Meski level inflasi inti tidak terlalu tinggi, angka ini mencerminkan bahwa perekonomian Indonesia masih tumbuh stabil, dengan estimasi pertumbuhan mencapai 5% pada 2024.
"Kita melihat komposisi dari inflasi, terutama yang berasal dari core inflation, yang dikembangkan oleh Bank Indonesia sebagai indikator inflasi dari sisi permintaan agregat. Levelnya masih di sekitar 2% dan meskipun tidak terlalu tinggi, ini menunjukkan bahwa ada pertumbuhan ekonomi," ungkap Sri.
“Core inflation yang masih tumbuh perlu kita teliti lebih lanjut, apakah itu merefleksikan adanya peningkatan permintaan, yang artinya ekonominya masih tumbuh dengan baik. Ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5%, dan ini tentu saja hal yang bagus,” sambungnya.
Dari sisi fiskal, pemerintah juga telah menjalankan berbagai program untuk menjaga stabilitas harga pangan melalui bantuan sosial (bansos). Langkah-langkah seperti pemberian bantuan seperti sembako menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk menurunkan beban pengeluaran masyarakat di sektor pangan.
Kebijakan fiskal ini bertujuan untuk membantu kelompok rentan dalam menghadapi tekanan ekonomi dan menjaga agar harga-harga kebutuhan pokok tetap terkendali.
“APBN kita digunakan untuk menstabilkan harga, terutama belanja makanan melalui bantuan sosial. Program, seperti pemberian ayam, telur, dan beras bertujuan untuk meringankan beban masyarakat, khususnya di masa-masa sulit,” tandas Sri.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




