ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

BI Diperkirakan Pertahankan Suku Bunga Acuan di 5,75 Persen pada Februari 2025

Rabu, 19 Februari 2025 | 04:00 WIB
AK
AD
Penulis: Arnoldus Kristianus | Editor: AD
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan keterangan pers di Kantor Pusat BI, Jakarta, Kamis, 19 Januari 2023.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan keterangan pers di Kantor Pusat BI, Jakarta, Kamis, 19 Januari 2023. (B Universe Photo/Mohammad Defrizal/Mohammad Defrizal)

Jakarta, Beritasatu.com - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% dalam rapat dewan Gubernur (RDG) BI pada Selasa-Rabu, 18–19 Februari 2025.

Ekonom makroekonomi dan pasar keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky mengatakan, proyeksi ini didasarkan pada perkembangan terkini perekonomian global dan domestik, yang masih penuh dengan ketidakpastian.

“Kami berpandangan bahwa BI perlu menahan suku bunga acuan di 5,75% pada RDG Februari ini,” ujar Riefky dalam Laporan Seri Analisis Makroekonomi RDG BI Februari 2025 pada Selasa (18/2/2025).

ADVERTISEMENT

Suku bunga acuan terpengaruh dari sisi perekonomian domestik, yakni inflasi pada Januari 2025 tercatat sebesar 0,76% (yoy), merupakan level terendah sejak tahun 2000 dan berada di bawah rentang target BI.

Penurunan ini sebagian besar dipengaruhi oleh diskon tarif listrik hingga 50% bagi kelompok rumah tangga tertentu. Namun, tekanan inflasi diperkirakan akan meningkat dalam beberapa bulan mendatang karena dua faktor utama.

Pertama, mendekati Ramadan, permintaan diperkirakan meningkat, yang dapat mendorong harga naik. Indeks ekspektasi harga umum (IEH) untuk Maret 2025 tercatat sebesar 179,0, naik dari 160,2 pada periode sebelumnya.

“Inflasi masih berada di kisaran batas bawah target Bank Indonesia. Namun, Indonesia akan segera memasuki periode Ramadan dan Idulfitri, yang umumnya mendatangkan tekanan inflasi,” jelas Riefky.

Kedua, turunnya agresivitas The Fed dalam pelonggaran moneternya serta arah kebijakan Presiden Trump yang terus berkembang berpotensi memengaruhi investor, meskipun arahnya masih sulit diprediksi.

Keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) untuk menahan suku bunga acuan terutama didorong oleh kondisi inflasi terkini di negara tersebut. 

Sejak dimulainya era pelonggaran kebijakan moneter pada September 2024, inflasi AS secara konsisten meningkat dari 2,4% (yoy) pada September 2024 menjadi 3,0% (yoy) pada Januari 2025, menjauh dari target jangka panjang The Fed sebesar 2%.

Meskipun sempat turun sedikit pada Desember 2024 ke angka 3,2% (yoy) dari 3,3% (yoy) yang stabil sejak September 2024, inflasi inti AS kembali naik ke 3,3% (yoy) pada Januari 2025.

“Perkembangan inflasi terkini di Amerika Serikat memperkuat pandangan bahwa The Fed akan mengurangi agresivitas pemangkasan suku bunga acuannya sepanjang tahun 2025,” pungkas Riefky dalam merespons suku bunga acuan BI.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Alasan BI Tahan Suku Bunga Acuan 4,75 Persen

Alasan BI Tahan Suku Bunga Acuan 4,75 Persen

EKONOMI
BI Tahan Suku Bunga 4,75 Persen pada Februari 2026

BI Tahan Suku Bunga 4,75 Persen pada Februari 2026

EKONOMI
Menanti BI Rate Februari 2026 sebagai Penentu Arah Pasar

Menanti BI Rate Februari 2026 sebagai Penentu Arah Pasar

EKONOMI
Bursa Asia Pasifik Menguat, Nikkei Naik Berkat BOJ Tahan Suku Bunga

Bursa Asia Pasifik Menguat, Nikkei Naik Berkat BOJ Tahan Suku Bunga

EKONOMI
BI Rate 5 Kali Turun pada 2025, Bagaimana 2026?

BI Rate 5 Kali Turun pada 2025, Bagaimana 2026?

EKONOMI
BI Tahan BI Rate 4,75 Persen pada Desember 2025, Fokus Jaga Rupiah

BI Tahan BI Rate 4,75 Persen pada Desember 2025, Fokus Jaga Rupiah

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon