Menanti BI Rate Februari 2026 sebagai Penentu Arah Pasar
Kamis, 19 Februari 2026 | 10:38 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Libur panjang Imlek 2026 selesai, pelaku pasar kembali menatap layar perdagangan dengan satu fokus utama, yakni keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI rate Februari 2026.
Di tengah arus modal yang fluktuatif, tekanan nilai tukar rupiah, serta inflasi yang mulai merangkak naik, hasil rapat dewan gubernur (RDG) Bank Indonesia pekan ini diyakini menjadi penentu arah pasar dalam jangka pendek.
Pada RDG sebelumnya, 20-21 Januari 2026, Bank Indonesia memutuskan mempertahankan BI rate di level 4,75%. Suku bunga deposit facility tetap 3,75%, sedangkan lending facility berada di 5,50%. Kebijakan tersebut di ambil dengan narasi untuk menjaga keseimbangan antara mendorong pertumbuhan ekonomi dan mempertahankan stabilitas makroekonomi.
Kini, memasuki RDG periode 18-19 Februari 2026, pasar saham domestik diperkirakan bergerak dinamis. Investor menanti apakah bank sentral kembali menahan suku bunga atau mulai memberi sinyal perubahan arah kebijakan moneter.
BI rate sebagai Kompas Arah Pasar
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (Ipot) Hari Rachmansyah mengatakan ekspektasi stabilitas suku bunga menjadi sentimen utama pasar saat ini.
“Sentimen kebijakan suku bunga juga menjadi faktor penting karena berpotensi menggerakkan sektor perbankan dan properti, seiring ekspektasi stabilitas likuiditas dan permintaan kredit,” ucap dia beberapa waktu yang lalu.
Menurut Hari, keputusan BI bukan sekadar soal angka 4,75%. Lebih dari itu, pasar menunggu arah kebijakan ke depan, yakni apakah bank sentral akan memberi ruang pelonggaran atau tetap berhati-hati di tengah tekanan eksternal.
Selain RDG BI, pelaku pasar juga mencermati data pertumbuhan kredit perbankan sebagai indikator denyut sektor riil. Laporan keuangan emiten tahun buku 2025 turut menjadi katalis fundamental yang dinantikan.
“Reformasi pasar memberikan harapan bagi investor terhadap daya tarik pasar modal jangka menengah-panjang, khususnya dalam menarik partisipasi investor asing,” ucapnya.
Progres reformasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) dinilai mampu memperkuat transparansi dan tata kelola, faktor penting dalam membangun kembali kepercayaan global.
Tekanan Eksternal dan Arus Modal
Sejumlah ekonom sepakat BI rate kemungkinan besar tetap bertahan di 4,75% pada Februari ini. Alasannya, volatilitas arus modal dalam beberapa pekan terakhir belum sepenuhnya mereda.
Chief Economist BSI Banjaran Surya memandang tekanan terhadap rupiah masih nyata. “Walaupun inflasi relatif terjaga, BI juga perlu mempertahankan daya tarik yield surat berharga dibanding yang lain. Pada sisi lain, pengaruh MSCI membuat aliran modal melalui pasar saham cenderung tertahan,” ujarnya.
Faktor MSCI memang menjadi perhatian. Peringatan terkait isu free float dinilai memengaruhi persepsi investor global. Pada saat yang sama, revisi outlook Indonesia oleh Moody's dari stabil menjadi negatif ikut meningkatkan premi risiko.
Department Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman menyebut dalam situasi seperti ini, bank sentral akan mengutamakan stabilitas nilai tukar dan kepercayaan investor.
"Ruang untuk memangkas suku bunga, menurutnya, masih terbatas hingga tekanan mereda," ujar dia.
Tekanan eksternal tecermin dari arus modal keluar. Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky mencatat sejak pengumuman MSCI, dana asing keluar dari pasar saham Indonesia mencapai US$ 1,01 miliar. Dari pasar obligasi, arus keluar tercatat US$ 0,37 miliar pasca perubahan outlook Moody’s.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




