ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Menanti BI Rate Februari 2026 sebagai Penentu Arah Pasar

Kamis, 19 Februari 2026 | 10:38 WIB
AD
AD
Penulis: Alfi Dinilhaq | Editor: AD
Perry Warjiyo.
Perry Warjiyo. (Antara/Dhemas Reviyanto)

Secara kumulatif, arus modal keluar dalam 30 hari terakhir mencapai US$ 1,06 miliar. Dampaknya terlihat pada kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah. Yield tenor 10 tahun naik dari 6,31% pada 19 Januari 2026 menjadi 6,40% per 13 Februari 2026. Sementara tenor 1 tahun melonjak dari 4,67% menjadi 4,87%.

"Kenaikan yield tersebut mengindikasikan investor meminta imbal hasil lebih tinggi di tengah risiko yang meningkat," paparnya.

Untuk meredam tekanan, BI disebut aktif meningkatkan kepemilikan surat utang pemerintah. Strategi ini membantu menjaga stabilitas rupiah agar tidak terdepresiasi terlalu dalam.

Sejak akhir bulan lalu, rupiah hanya melemah 0,27% dan bahkan menguat 0,44% secara bulanan dalam 30 hari terakhir. Namun secara year to date, rupiah masih terdepresiasi 0,84%, dan secara tahunan melemah 3,74%.

ADVERTISEMENT

Dari sisi domestik, inflasi juga menjadi pertimbangan penting. Inflasi Januari 2026 tercatat 3,55% secara tahunan, sedikit melampaui batas atas target Bank Indonesia sebesar 1,5%-3,5%.

Tekanan harga diperkirakan berlanjut dalam jangka pendek seiring datangnya Ramadan dan Idulfitri, periode yang biasanya diiringi peningkatan konsumsi masyarakat.

"Kondisi ini membuat bank sentral berada dalam posisi dilematis menjaga stabilitas harga sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi," tambahnya.

Bayang-Bayang The Fed

Faktor global lain yang tak kalah penting adalah kebijakan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve atau The Fed.

Kepala Ekonom BCA David Sumual menilai BI dan The Fed kemungkinan akan sama-sama mempertahankan suku bunga setidaknya hingga akhir kuartal I 2026.

Namun, risiko perlambatan ekonomi Amerika Serikat serta koreksi harga aset global dapat membuka peluang pelonggaran moneter pada paruh kedua tahun ini.

Artinya, keputusan BI pada Februari bukan hanya soal kondisi domestik, tetapi juga respons terhadap dinamika global.

"Namun, risiko perlambatan ekonomi AS serta koreksi harga aset dapat membuka ruang bagi penurunan suku bunga pada paruh kedua tahun ini," pungkasnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

BI Tahan Suku Bunga 4,75 Persen pada Februari 2026

BI Tahan Suku Bunga 4,75 Persen pada Februari 2026

EKONOMI
BI Diproyeksikan Tahan BI Rate di Level 4,75 Persen

BI Diproyeksikan Tahan BI Rate di Level 4,75 Persen

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon