ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

The Fed Pertahankan Suku Bunga, Ekonom Soroti Risiko Resesi AS

Kamis, 8 Mei 2025 | 14:34 WIB
RS
AD
Penulis: Rama Sukarta | Editor: AD
Ilustrasi The Fed
Ilustrasi The Fed (AP Photo)

Jakarta, Beritasatu.com - The Fed atau bank sentral Amerika Serikat (AS) memutuskan untuk menahan suku bunga acuannya di kisaran 4,25%-4,5% dalam pertemuan yang digelar Rabu (8/5/2025) dini hari waktu Indonesia.

Keputusan ini diambil sebagai respons atas meningkatnya risiko inflasi dan pengangguran, menyusul pengumuman Presiden AS Donald Trump terkait kebijakan penyesuaian tarif impor.

Senior Economist Banana TCW Investment Management Emil Muhammad mengatakan, langkah The Fed tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar dan analis.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, kondisi ekonomi saat ini menimbulkan kebingungan bagi The Fed karena indikator inflasi dan pengangguran bergerak ke arah yang bertolak belakang. Hal ini membuat bank sentral bersikap lebih hati-hati, apalagi ditambah ketidakpastian arah kebijakan tarif yang belum sepenuhnya jelas.

“(Kebijakan tarif ini) belum tentu berdampak positif, setidaknya dalam jangka pendek. Jika tujuan Presiden Trump adalah untuk mendorong produksi dalam negeri, itu mungkin berhasil dalam jangka panjang," jelas Emil dalam diskusi daring dengan Beritasatu.com, Kamis (8/5/2025).

Namun, ia melanjutkan dalam waktu dekat, masyarakat masih mengonsumsi barang dari stok lama yang belum terkena kenaikan harga. Ketika stok habis dan tarif mulai berlaku penuh, dampaknya terhadap ekonomi akan negatif.

Ia juga menyoroti potensi resesi di Amerika Serikat (AS) sebagai imbas dari penyesuaian tarif tersebut. Menurut Emil, meskipun ekonomi AS belum secara resmi memasuki fase resesi pada kuartal I, risiko menuju ke sana tetap terbuka.

“Belum ada sinyal pasti bahwa ekonomi AS sudah resesi, tetapi apakah mungkin? Sangat mungkin. Kita akan melihat dampaknya pada paruh kedua tahun ini. Jika produsen kesulitan menjual barang karena harga naik, efisiensi mulai diterapkan, dan belanja konsumen melemah, bukan tak mungkin itu mengarah pada kontraksi ekonomi,” ujarnya.

Situasi saat ini, kata Emil, mirip dengan kondisi pada 2021 ketika inflasi global melonjak akibat gangguan rantai pasok. Bedanya, kini tekanan datang dari kebijakan tarif.

Ia menilai bahwa dilema kebijakan saat ini bukan sepenuhnya bisa diselesaikan oleh The Fed, melainkan memerlukan intervensi dari pemerintah federal.

“Ini memang dilema besar bagi The Fed. Solusinya mungkin bukan di tangan mereka, tetapi di tangan pemerintah AS itu sendiri,” tutup Emil.

Sebagai catatan, indeks saham utama AS ditutup menguat setelah pengumuman kebijakan The Fed. Indeks S&P 500 naik 0,43%, sementara Dow Jones Industrial Average (DJIA) menguat 0,79%, mencerminkan kelegaan pasar atas keputusan penahanan suku bunga tersebut.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Harga Emas Berpeluang Naik Ditopang Bejibun Sentimen Global

Harga Emas Berpeluang Naik Ditopang Bejibun Sentimen Global

EKONOMI
Rupiah Kembali Ditutup Melemah ke Rp 17.382 Tertekan 2 Sentimen

Rupiah Kembali Ditutup Melemah ke Rp 17.382 Tertekan 2 Sentimen

EKONOMI
Rupiah Sentuh Level Terburuk, Ekonom Minta BI Lebih Hawkish

Rupiah Sentuh Level Terburuk, Ekonom Minta BI Lebih Hawkish

EKONOMI
The Fed Tahan Suku Bunga, Dunia Bersiap Hadapi Volatilitas Baru

The Fed Tahan Suku Bunga, Dunia Bersiap Hadapi Volatilitas Baru

EKONOMI
Penahanan Suku Bunga The Fed Picu Volatilitas Global

Penahanan Suku Bunga The Fed Picu Volatilitas Global

EKONOMI
Bursa Asia Melemah Tertekan Lonjakan Minyak dan Sikap The Fed

Bursa Asia Melemah Tertekan Lonjakan Minyak dan Sikap The Fed

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon