Rupiah Sentuh Level Terburuk, Ekonom Minta BI Lebih Hawkish
Kamis, 30 April 2026 | 17:22 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan menyentuh level terburuk seiring meningkatnya ketidakpastian global pascakeputusan Federal Reserve (The Fed) yang menahan suku bunga acuan.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mengatakan, kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa tekanan inflasi dan risiko global masih membayangi.
"Sikap hati-hati, namun juga belum sepenuhnya agresif, ini sebuah sinyal bahwa tekanan inflasi dan risiko global masih membayangi," ujar Fakhrul dalam keterangannya, Kamis (30/4/2026).
Pada perdagangan Kamis, rupiah ditutup melemah 20 poin atau sekitar 0,12% ke level Rp 17.346 per dolar AS. Pelemahan ini mencerminkan tekanan eksternal yang masih kuat, terutama dari kebijakan moneter Amerika Serikat.
Menurut Fakhrul, rupiah saat ini berada dalam fase overshooting, yakni kondisi ketika pergerakan nilai tukar melampaui fundamental jangka pendek dan masih mencari titik keseimbangan baru.
Pada situasi tersebut, pasar membutuhkan sinyal kuat dari otoritas moneter bahwa stabilitas akan tetap dijaga.
Ia pun mendorong Bank Indonesia (BI) untuk menunjukkan sikap kebijakan yang lebih tegas atau hawkish melalui tightening bias.
Namun, tightening bias tidak selalu berarti kenaikan suku bunga secara langsung, melainkan memberikan sinyal kuat bahwa bank sentral siap bertindak jika tekanan meningkat.
“Respons hawkish dari Bank Indonesia menjadi penting, bukan hanya untuk menahan tekanan nilai tukar, tetapi juga untuk mengelola ekspektasi pasar. Ini bukan soal mengejar The Fed, tetapi soal menjaga kepercayaan terhadap stabilitas domestik,” tegas Fakhrul.
Pada sisi fiskal, ia juga menyoroti pentingnya kepastian arah anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), termasuk penyesuaian program prioritas seperti makan bergizi gratis (MBG).
“Penyesuaian anggaran, termasuk dalam program MBG, menunjukkan bahwa pemerintah responsif terhadap dinamika fiskal dan tidak terjebak dalam rigiditas. Ini penting untuk menjaga kredibilitas APBN di tengah tekanan global yang meningkat,” ujarnya.
Fakhrul menambahkan, pasar membutuhkan kejelasan target fiskal serta strategi pembiayaan, terutama di tengah potensi tekanan dari harga energi dan kebutuhan belanja domestik.
Menurutnya, sinergi antara BI dan Kementerian Keuangan menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
“Masyarakat dan pasar saat ini tidak hanya butuh kebijakan yang benar, tetapi juga kepastian bahwa kebijakan tersebut akan dijalankan dengan disiplin dan fleksibilitas. Kehati-hatian pengambil kebijakan menjadi kunci untuk menjaga stabilitas sekaligus kepercayaan,” tutupnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




