Pelemahan Rupiah Bisa Menguntungkan jika Investor Cermat Membaca Pasar
Kamis, 18 Juni 2026 | 18:25 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Simpan Asset Management menilai tekanan yang terjadi di pasar keuangan Indonesia saat ini belum mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi nasional.
Tekanan pasar dinilai lebih banyak dipicu pelemahan nilai tukar rupiah, arus keluar dana asing, dan ketidakpastian kebijakan.
Co-Founder Simpan Asset Management Nicholas Hilman mengatakan investor perlu membaca kondisi pasar secara cermat. Menurut dia, tekanan yang terjadi saat ini tidak perlu langsung direspons dengan kepanikan karena sejumlah indikator utama ekonomi Indonesia masih relatif terjaga.
“Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Bagi investor, ini adalah sinyal yang perlu dibaca dengan tepat, bukan direspons dengan kepanikan,” kata Nicholas saat ditemui di kawasan WTC 3 Sudirman, Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Nicholas menjelaskan nilai tukar rupiah telah melemah 15,6% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sejak Oktober 2024. Pada periode yang sama, valuasi indeks harga saham gabungan (IHSG) turun ke level terendah sejak era COVID-19. Sementara itu, kepemilikan investor asing pada obligasi pemerintah Indonesia menyusut dari sekitar 23% menjadi 13%.
Meski demikian, Nicholas menilai tekanan tersebut tidak menggambarkan kerusakan pada fondasi ekonomi Indonesia. Menurut dia, tekanan lebih banyak terjadi pada nilai tukar dan aliran modal, sedangkan inflasi masih terkendali dan pertumbuhan ekonomi tetap berada di kisaran 5%.
“Yang perlu diperhatikan investor adalah tekanan saat ini lebih terkonsentrasi pada sisi currency dan aliran modal, bukan pada fondasi ekonomi itu sendiri. Inflasi tetap terjaga dan pertumbuhan ekonomi masih stabil di sekitar 5%,” ujar Nicholas.
Dari sisi fiskal, Nicholas menyoroti realisasi penerimaan negara pada 2025 yang belum mencapai target. Pemerintah disebut hanya merealisasikan sekitar 91% dari target penerimaan Rp 3.000 triliun, sementara belanja negara terus meningkat dan rasio defisit terhadap produk domestik bruto (PDB) mendekati batas 3%.
Tekanan juga datang dari sisi moneter. Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin dalam dua bulan terakhir untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Pada saat yang sama, cadangan devisa turun dari sekitar US$ 156 miliar menjadi US$ 145 miliar karena digunakan untuk membantu stabilisasi nilai tukar.
Namun, Nicholas menegaskan kondisi tersebut belum dapat disebut sebagai krisis. Menurutnya, pasar lebih banyak bereaksi terhadap ketidakpastian kebijakan dan faktor eksternal, bukan karena penurunan kinerja emiten atau keruntuhan fundamental ekonomi.
“Pasar sedang bereaksi terhadap ketidakpastian kebijakan, bukan terhadap keruntuhan fundamental. Ketika aset berada pada valuasi yang menarik dan kondisi makro masih relatif konstruktif, peluang investasi tetap terbuka,” kata Nicholas.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, Nicholas menilai investor perlu menerapkan strategi yang aktif dan terdiversifikasi.
“Kami melihat kondisi saat ini bukan sebagai krisis, melainkan fase penyesuaian yang memerlukan strategi investasi yang disiplin. Yang perlu dihindari adalah keputusan yang didorong kepanikan ataupun mengabaikan risiko yang ada,” ujar Nicholas.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




