ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Wall Street Berpesta setelah Perang Dagang AS-China Mereda

Sabtu, 17 Mei 2025 | 08:01 WIB
AD
AD
Penulis: Alfi Dinilhaq | Editor: AD
ilustrasi Wall Street.
ilustrasi Wall Street. (AP/AP)

Jakarta, Beritasatu.com - Wall Street menguat signifikan sepanjang pekan ini seiring meredanya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Kondisi ini mendorong optimisme investor, yang tecermin dari lonjakan tajam pada ketiga indeks utama di bursa saham AS.

Melansir CNBC International, Sabtu (17/5/2025), S&P 500 ditutup naik 0,70% ke level 5.958,38 pada Jumat (16/5/2025). Sepanjang pekan, indeks ini mencatatkan kenaikan 5,3%, termasuk salah satu yang tertinggi tahun ini.

Nasdaq Composite juga menguat 0,52% ke posisi 19.211,10. Dow Jones Industrial Average melonjak 331,99 poin atau 0,78%, menutup perdagangan di angka 42.654,74.

ADVERTISEMENT

Kenaikan tersebut membawa Dow Jones kembali ke zona hijau sepanjang  2025. Sementara itu, Nasdaq mencatat performa mingguan terbaik di antara ketiga indeks utama.

Dalam sepekan, Nasdaq melesat 7,2% berkat reli saham-saham teknologi. Saham Nvidia mencatatkan kenaikan luar biasa sebesar 16%, diikuti Meta Platforms naik 8%, Apple menguat 6%, dan Microsoft terapresiasi 3%.

Namun, kinerja positif Wall Street terjadi di tengah data ekonomi yang kurang menggembirakan. Indeks sentimen konsumen versi University of Michigan melemah ke posisi terendah kedua dalam sejarah.

Konsumen AS memproyeksikan inflasi setahun ke depan naik menjadi 7,3%, dari 6,5% pada bulan sebelumnya. Namun, pasar tampaknya lebih fokus pada sentimen positif dari hubungan dagang internasional.

Pemicu utama penguatan pasar adalah tercapainya kesepakatan gencatan dagang selama 90 hari antara AS dan China. Perjanjian tersebut berhasil meredakan kekhawatiran pasar terhadap eskalasi tarif yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi global.

Managing Partner Harris Financial Group Jamie Cox mengatakan, saat ini pasar tengah mengevaluasi ulang risiko stagflasi. "Dugaan bahwa tarif akan langsung memicu lonjakan inflasi belum tercermin dalam data ekonomi," jelas Cox.

Ia menambahkan, meskipun konsumen mengaku khawatir, pola belanja mereka belum mencerminkan kekhawatiran tersebut. "Konsumsi tetap menjadi penopang utama ekonomi,” ujarnya.

Hal itu mengindikasikan bahwa daya beli masyarakat masih cukup kuat di tengah tekanan harga.

Investor kini menanti kepastian lebih lanjut terkait arah kebijakan dagang pemerintah AS. Presiden Donald Trump menyatakan akan mengirim surat ke beberapa negara dalam dua hingga tiga pekan ke depan untuk menetapkan tarif baru.

Langkah tersebut akan menggantikan proses negosiasi yang dinilai terlalu lambat dan kurang efektif. Pasar global dan investor Wall Street akan mencermati respons negara mitra dagang terhadap kebijakan ini dalam beberapa waktu mendatang.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Wall Street Cetak Rekor Baru, Saham AI dan Cip Jadi Penggerak

Wall Street Cetak Rekor Baru, Saham AI dan Cip Jadi Penggerak

EKONOMI
IHSG Hari Ini 8 Mei 2026 Dibuka Melemah ke Level 7.146,4

IHSG Hari Ini 8 Mei 2026 Dibuka Melemah ke Level 7.146,4

EKONOMI
Wall Street Melemah di Tengah Fluktuasi Harga Minyak

Wall Street Melemah di Tengah Fluktuasi Harga Minyak

EKONOMI
S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Penutupan Tertinggi

S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Penutupan Tertinggi

EKONOMI
Wall Street Melesat, S&P 500 Tembus ATH Baru di Atas Level 7.200

Wall Street Melesat, S&P 500 Tembus ATH Baru di Atas Level 7.200

EKONOMI
Wall Street Melemah Tertekan Harga Minyak dan Suku Bunga The Fed

Wall Street Melemah Tertekan Harga Minyak dan Suku Bunga The Fed

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon