ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Ekonom Ramal PHK Massal di Indonesia Terjadi dalam 3-6 Bulan

Selasa, 20 Mei 2025 | 08:12 WIB
AF
SL
Penulis: Alfida Rizky Febrianna | Editor: LES
Direktur Eksekutif INDEF Tauhid Ahmad dalam program Investor Market Today di Beritasatu TV, Senin 19 Mei 2025.
Direktur Eksekutif INDEF Tauhid Ahmad dalam program Investor Market Today di Beritasatu TV, Senin 19 Mei 2025. (Beritasatu.com/Alfida Febrianna)

Jakarta, Beritasatu.com – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal diprediksi akan kembali melanda Indonesia dalam 3 hingga 6 bulan ke depan. Prediksi ini muncul sebagai dampak lanjutan dari gejolak ekonomi global, terutama akibat perang dagang antara China dan Amerika Serikat (AS) serta kebijakan tarif impor yang diberlakukan Presiden AS, Donald Trump.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad, mengungkapkan bahwa tanda-tanda gelombang PHK massal sudah mulai terlihat, mengingat sebanyak 24.000 pekerja telah terkena PHK di awal 2025, serta hampir 80.000 pekerja sepanjang tahun 2024.

“Melihat fenomena yang terjadi, biasanya dalam rentang 3 hingga 6 bulan ke depan pelaku usaha akan mulai menghitung ulang strategi. Mereka akan menghabiskan stok produk yang ada di gudang terlebih dahulu, lalu melakukan efisiensi, termasuk dari sisi tenaga kerja,” ujar Tauhid dalam program Investor Market Today di Beritasatu TV, Senin (19/5/2025).

ADVERTISEMENT

Menurutnya, pemerintah seharusnya sudah bisa membaca pola ini dan segera mengambil langkah antisipatif. Ia menekankan bahwa tanda-tanda pelemahan ekonomi sudah tampak sejak tahun lalu dan menunjukkan penurunan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di sejumlah sektor penting.

“Saya kira ini harus diantisipasi secara serius agar tidak terjadi ketidaksiapan. Sejak tahun lalu sudah terlihat gejala penurunan. Kalau kita lihat, sektor seperti otomotif, elektronik, dan tekstil mengalami stagnasi atau bahkan penurunan kontribusi terhadap PDB,” jelasnya.

Tauhid juga menyebutkan bahwa banyak perusahaan di sektor-sektor tersebut mulai melakukan efisiensi tenaga kerja secara diam-diam. Bahkan, PHK massal telah terjadi sejak periode setelah Lebaran tahun lalu.

“Mungkin dampaknya akan semakin terasa pada kuartal II dan III tahun ini. Sektor otomotif, elektronik, dan tekstil kemungkinan menjadi yang paling terdampak,” tambahnya terkait prediksi gelombang PHK massal.
 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Laba Merosot, Porsche Bakal PHK Massal 500 Pekerja

Laba Merosot, Porsche Bakal PHK Massal 500 Pekerja

OTOTEKNO
Menperin Sebut PHK Massal Tak Terjadi di Industri Manufaktur

Menperin Sebut PHK Massal Tak Terjadi di Industri Manufaktur

EKONOMI
Buruh Desak Pemerintah Tekan PHK Massal dan Ciptakan Pekerjaan Layak

Buruh Desak Pemerintah Tekan PHK Massal dan Ciptakan Pekerjaan Layak

EKONOMI
Ekonomi Global Tak Pasti, Menaker Siapkan Sistem Peringatan Dini PHK

Ekonomi Global Tak Pasti, Menaker Siapkan Sistem Peringatan Dini PHK

EKONOMI
Laba Jeblok, Volkswagen Bakal PHK Massal 50.000 Pekerjaan

Laba Jeblok, Volkswagen Bakal PHK Massal 50.000 Pekerjaan

EKONOMI
Migrasi AI, Morgan Stanley PHK Massal 2.500 Karyawan

Migrasi AI, Morgan Stanley PHK Massal 2.500 Karyawan

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon