Badai PHK hingga Daya Beli Anjlok, Ekonom UI Ingatkan Ini
Rabu, 4 Juni 2025 | 03:05 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Sejumlah kalangan menyoroti kebijakan pemerintah dalam menyikapi kondisi ekonomi dalam negeri yang diklaim baik-baik saja padahal fakta di lapangan tidak terjadi demikian. Hal ini terlihat dengan kondisi daya beli yang terus merosot hingga jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) yang naik.
Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia (UI) Telisa Aulia Falianty mengatakan mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mengumumkan deflasi 0,37 persen pada Mei 2025 secara month to month merupakan bukti nyata kondisi ekonomi harus disikapi serius oleh pemerintah.
Pasalnya, deflasi yang terjadi benar-benar dianggap sebagai alarm yang harus diantisipasi pemerintah karena deflasi yang terjadi ini di tengah badai PHK yang melanda sejumlah industri hingga daya beli yang terus merosot.
"Jadi, kalau bisa pemerintah jangan selalu bilang ekonomi kita baik baik saja, boleh optimistis tetapi harus waspada dan realistis," kata Telisa saat dihubungi Beritasatu.com, Selasa (03/06/2025).
Telisa mengatakan, situasi ekonomi global dan domestik yang penuh dinamika menjadi tanda bahwa kondisi ekonomi secara nyata harus disikapi dengan berbagai kebijakan nyata.
"Indikator-indikator tadi (PHK dan daya beli anjlok) sedikit-sedikit bakal menggerus pertumbuhan ekonomi Indonesia," kata dia.
Sejumlah stimulus yang digulirkan pemerintah tetap dinilai positif sebagai bagian untuk merangsang minat belanja masyarakat terutama dalam menghadapi libur sekolah. Namun, kata dia, ada sejumlah kebijakan konkret yang harus ditempuh pemerintah.
"Perbanyak program padat karya yang distimulus dari anggaran pemerintah yang dapat menyerap lapangan kerja. Selain itu, belanja pemerintah didorong untuk ekonomi domestik dan mendorong permintaan kepada program UMKM," jelas dia.
Tidak itu saja, kata dia, stimulus lain yang dinilai mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional adalah dari sisi kebijakan moneter yang dinilai cukup ampuh terutama dalam peningkatan kredit usaha. "Stimulus dari sisi moneter dalam bentuk suku bunga rendah dan mendorong kredit usaha," pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




