Apa yang Terjadi Jika Iran Tutup Selat Hormuz, Indonesia Terdampak?
Senin, 23 Juni 2025 | 13:00 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Ancaman Iran untuk menutup Selat Hormuz bukan sekadar gertakan. Selama beberapa dekade terakhir, negeri Persia ini secara terbuka menyatakan akan menutup jalur perairan strategis tersebut jika menghadapi serangan militer atau tekanan ekonomi dari negara lain.
Baru-baru ini, parlemen Iran menyetujui rencana penutupan Selat Hormuz sebagai respons terhadap serangan Amerika Serikat terhadap tiga fasilitas nuklir milik Iran.
Meski rencana ini telah mendapat lampu hijau, belum ada kepastian kapan dan bagaimana penutupan tersebut akan dilakukan secara nyata. Padahal, Selat Hormuz merupakan jalur utama distribusi energi global yang keberadaannya sangat vital.
Anggota parlemen sekaligus komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Esmail Kosari, menegaskan bahwa penutupan Selat Hormuz masuk dalam agenda dan bisa dilakukan kapan saja jika dibutuhkan.
Di tengah konflik dengan Israel, Iran mempertimbangkan berbagai opsi untuk merespons apa yang mereka sebut sebagai agresi asing. Salah satu opsi paling signifikan adalah menutup Selat Hormuz.
Bila hal ini benar-benar terjadi, dampak ekonomi dan politik yang ditimbulkan akan sangat besar, bahkan meluas ke berbagai belahan dunia. Dihimpun dari berbagai sumber, berikut dampaknya!
Lonjakan Harga Minyak Dunia

Setiap kali terjadi ketegangan di kawasan Selat Hormuz, harga minyak dunia langsung terdampak. Contohnya pada tahun 2011, ketika Iran mengancam akan menutup selat ini, harga minyak mentah melonjak hingga lebih dari US$ 120 atau Rp 1,98 juta per barel.
Menurut The Diplomatic Insight, jika penutupan benar-benar dilakukan, harga minyak bisa naik drastis hingga menyentuh angka US$ 150-200 atau sekitar Rp 2,47 juta hingga Rp 3,3 juta per barel, tergantung pada skala gangguan dan kerusakan yang terjadi.
Negara-negara seperti AS, Uni Eropa, Tiongkok, dan India yang sangat tergantung pada pasokan energi akan menghadapi tekanan inflasi besar-besaran.
Jika skenario penutupan terjadi pada 2025, harga minyak dunia diprediksi bisa melambung hingga US$ 160 atau sekitar Rp 2,64 juta per barel. Kenaikan harga minyak pun telah terlihat belakangan ini.
Harga minyak Brent akhir pekan lalu tercatat naik menjadi US$ 88,90 atau Rp 1,44 juta per barel, sementara minyak WTI melonjak ke US$ 85,60 atau Rp 1,39 juta.
Ini merupakan lonjakan tertinggi dalam enam pekan terakhir dan bisa makin tak terkendali jika Selat Hormuz ditutup.
Gangguan Pasokan Energi Global
Negara-negara pengimpor minyak utama seperti Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, dan India akan langsung terkena dampaknya. Meskipun beberapa telah membangun cadangan dan jalur alternatif seperti pipa East-West Arab Saudi, kapasitasnya belum cukup untuk menampung volume distribusi yang biasa melewati Selat Hormuz.
Sekitar 35% dari seluruh perdagangan maritim Teluk mengalir melalui selat ini. Penutupannya akan membuat biaya pengiriman meningkat, pengiriman tertunda, dan rute kapal harus dialihkan ke jalur yang lebih panjang serta mahal.
Premi asuransi pengiriman pun akan melonjak karena kawasan ini dikategorikan sebagai zona risiko perang. Qatar, yang mengekspor lebih dari 70% LNG-nya melalui Selat Hormuz, juga akan terdampak. Harga gas di pasar Eropa dan Asia bisa melonjak, terlebih saat permintaan meningkat di musim dingin.
Negara-negara seperti Jerman, Jepang, Korea Selatan, dan Pakistan akan terancam krisis energi jika tidak menggunakan cadangan darurat.
Selat Hormuz memiliki lebar antara 35 hingga 60 mil dan menjadi jalur penting bagi kapal tanker minyak serta LNG. Sekitar seperlima pasokan minyak global dan sepertiga perdagangan LNG melewati selat ini.
Pada 2022, lebih dari 21 juta barel minyak per hari melintasi jalur ini, mencakup 21% dari konsumsi global. Titik kemacetan seperti Selat Hormuz sangat strategis dan sulit digantikan. Jika ditutup, dampaknya akan terasa luas mulai dari terganggunya pasokan energi hingga meningkatnya biaya global.
Ketegangan Regional yang Bisa Melebar
Penutupan Selat Hormuz hampir pasti akan memicu eskalasi militer. Jika Amerika Serikat ikut terlibat, potensi konflik bisa meluas dan mengguncang stabilitas seluruh kawasan Timur Tengah. Terlebih Iran telah menempatkan opsi penutupan ini sebagai respons terhadap apa yang mereka anggap sebagai agresi asing.
Bagaimana Dampaknya ke Indonesia?
Meski Indonesia tidak terlibat langsung dalam konflik, dampaknya tetap akan terasa. Penutupan Selat Hormuz akan menyebabkan kenaikan harga minyak dunia, yang pada akhirnya mempengaruhi harga bahan bakar dalam negeri.
Pengalihan rute pengiriman membuat distribusi lebih lama dan biaya lebih mahal. Ini akan memicu kenaikan harga BBM di Indonesia dan berpotensi memicu inflasi karena bahan bakar adalah kebutuhan pokok masyarakat.
Vice President Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso, menyatakan bahwa Pertamina telah menyiapkan langkah antisipatif, seperti mengalihkan rute kapal ke jalur yang lebih aman lewat Oman dan India. Ia juga memastikan bahwa stok minyak saat ini masih dalam kondisi aman.
“Pertamina telah mengantisipasi hal tersebut dengan mengamankan kapal kita, mengalihkan rute kapal ke jalur aman melalui Oman dan India. Terkait biaya operasional masih kami periksa. (Stok minyak) sejauh ini masih aman,” terangnya dilansir Antara, Senin (23/6/2025).
Namun, jika ketegangan berkepanjangan dan penutupan Selat Hormuz berlangsung lama, dampaknya tetap tidak bisa dianggap remeh. Harga minyak bisa terus melonjak dan efeknya merembet ke seluruh sektor ekonomi.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran, meski belum pasti terjadi, tetap menjadi ancaman serius terhadap stabilitas ekonomi dan energi global. Selat Hormuz bukan hanya penting bagi negara-negara Timur Tengah, tapi juga bagi seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
PSEL Makassar Akan Olah Ribuan Ton Sampah Jadi Energi Listrik
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Kasus Campak Merebak, 6 Daerah di Sulawesi Tengah Ditetapkan KLB




