Apindo: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II 2025 Paradoks tetapi Optimistis
Rabu, 6 Agustus 2025 | 05:10 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai capaian pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2025 mencerminkan kondisi yang paradoks. Di tengah menurunnya daya beli masyarakat, pertumbuhan ekonomi justru menunjukkan angka positif.
Namun, di balik berbagai tantangan tersebut, Apindo menyatakan optimisme bahwa secara agregat, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 tetap bisa mencapai target 5,2%.
“Pemerintah harus selalu menggandeng dunia usaha agar mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih sustain dan eskalatif ke depannya. Kolaborasi inilah yang terus didorong melalui Indonesia Incorporated,” ujar Analis Kebijakan Ekonomi Apindo Ajib Hamdani, Selasa (5/8/2025).
Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2025 tercatat 5,12%. Produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp 5.947 triliun, sementara atas dasar harga konstan sebesar Rp 3.396,3 triliun. Dibandingkan kuartal I 2025, pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan dari 4,04%.
Ajib menyampaikan bahwa agar target pertumbuhan lebih berkelanjutan, pemerintah perlu menjalankan empat langkah utama.
Pertama, memacu daya beli masyarakat dengan meningkatkan penciptaan lapangan kerja. “Seluruh kebijakan lembaga dan kementerian harus mempunyai orientasi dan output dalam penyerapan tenaga kerja,” katanya.
Kedua, memperkuat insentif fiskal dan moneter secara tepat sasaran serta mendorong terciptanya ekonomi biaya rendah. Ajib menyebut percepatan restitusi, PPN ditanggung pemerintah (DTP), dan relaksasi pajak UMKM sebagai contoh kebijakan fiskal yang pro pertumbuhan.
“Kemudian tingkat suku bunga kredit yang murah, perlu didorong terutama untuk sektor padat karya,” tambahnya.
Ketiga, mendorong deregulasi atau penyederhanaan aturan. Ajib menekankan pentingnya percepatan layanan, kemudahan koordinasi, serta penyederhanaan perizinan. Menurutnya, pembentukan Kelompok Kerja Deregulasi oleh Kemenko Perekonomian menjadi bentuk kolaborasi konkret antara pemerintah dan dunia usaha.
Keempat, memperbesar aliran investasi. Ajib menyoroti rendahnya rasio penanaman modal asing yang masih bisa ditingkatkan. Salah satu kunci adalah meningkatkan kemudahan berusaha di Indonesia, yang saat ini berada di peringkat 73 dari 190 negara.
“Idealnya Indonesia bisa di peringkat 40. Momentum ratifikasi IEU-CEPA (Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement) juga menjadi angin segar menuju free trade agreement dan membuka pintu investasi dari Uni Eropa ke Indonesia,” tutup Ajib.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




