Harga Minyak Stabil, Pasar Tunggu Pertemuan Trump-Putin
Sabtu, 9 Agustus 2025 | 08:19 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Harga minyak dunia bergerak stabil pada Jumat (8/8/2025), menjelang pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin yang dijadwalkan pekan depan. Namun, minyak mencatat penurunan mingguan terdalam sejak Juni akibat kekhawatiran ekonomi yang tertekan oleh kebijakan tarif impor.
Mengutip Reuters, Sabtu (9/8/2025), harga minyak mentah Brent naik tipis 0,2% menjadi US$ 66,59 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS bertahan di level US$ 63,88 per barel. Sepanjang pekan, Brent merosot 4,4% dan WTI turun 5,1%.
Menurut Bloomberg, Washington dan Moskwa sedang berupaya mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang di Ukraina, yang dapat mengukuhkan kendali Rusia atas wilayah yang dikuasainya.
Pertemuan puncak Trump-Putin tersebut memunculkan harapan berakhirnya ketegangan diplomatik dan kemungkinan pelonggaran sanksi terhadap Rusia, di tengah meningkatnya gesekan perdagangan AS dengan pembeli minyak Rusia.
Pada sisi lain, Trump mengancam akan menaikkan tarif impor minyak dari India apabila negara tersebut tetap membeli minyak dari Rusia. China, yang merupakan pembeli terbesar minyak Rusia, juga disebut berpotensi menghadapi tarif serupa.
“Ada banyak faktor non-fundamental yang memengaruhi pasar, termasuk kekhawatiran terkait tarif dan kabar pertemuan Trump-Putin yang membuat pelaku pasar waspada,” ujar analis pasar energi Neil Crosby.
Sementara, analis ANZ Bank menyebut, kebijakan tarif impor baru AS dari berbagai negara mulai berlaku pada Kamis (7/8/2025), sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap prospek ekonomi dan permintaan minyak global.
Sementara itu, OPEC+ menyepakati penambahan produksi sebesar 547.000 barel per hari untuk September, sebagai bagian dari rencana bertahap merebut kembali pangsa pasar. Jumlah rig minyak AS juga bertambah satu unit menjadi 411, yang mengindikasikan potensi kenaikan pasokan ke depan.
Analis FGE NexantECA menilai sentimen pasar cenderung negatif menyusul penambahan pasokan OPEC+ serta pemberlakuan tarif impor oleh AS.
Selain itu, pengangkatan Stephen Miran sebagai anggota dewan penasihat ekonomi AS oleh Trump memicu spekulasi akan adanya kebijakan moneter yang lebih longgar, yang berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi dan permintaan energi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




