Transisi EBT Penting tetapi Tak Boleh Mahal
Minggu, 28 September 2025 | 20:23 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Pemerintah diminta memperbaiki integrasi rantai pasok energi dalam upaya memenuhi kebutuhan energi nasional. Pasalnya, sumber energi dari hulu hingga hilir melalui supply chain yang terintegrasi end to end dinilai belum maksimal.
Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Transportasi dan Komersialisasi Minyak dan Gas Bumi, Satya Hangga Yudha Widya Putra, mengatakan perbaikan harus dimulai dari sumber energi, fasilitas, hingga transportasi, baik melalui pipa, kapal, maupun terminal regasifikasi.
“Kita juga harus memiliki sistem pipeline pipa yang terintegrasi antarpulau supaya bisa menyuplai energi untuk kebutuhan listrik, industri, dan transportasi. Karena segala sesuatu yang kita lakukan membutuhkan energi,” ujar Hangga dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (28/9/2025).
BACA JUGA
Pertamina NRE Dorong Ketahanan Energi dengan EBT dan Pengelolaan Transisi Energi yang Efisien
Ia menekankan, di tengah semangat dekarbonisasi dan transisi energi, Indonesia harus tetap realistis menghadapi prioritas utama masyarakat, yaitu accessibility, affordability, dan availability.
“Yang paling penting kita bisa mendapatkan listrik, menyalakan lampu, AC, handphone, dan laptop. Kita bisa ke SPBU isi bensin dengan harga yang tidak terlalu mahal. Itu yang menjadi prioritas bagi masyarakat, yaitu harga dahulu,” katanya menegaskan.
Hangga mengakui pemerintah memiliki tanggung jawab mencapai target seperti Paris Agreement dan net zero emission (NZE) 2060. Namun, harga energi baru terbarukan (EBT) yang relatif masih tinggi serta tantangan penyimpanan (storage) menjadi hambatan.
“EBT penting, tetapi harganya harus terjangkau dan bisa menyediakan listrik selama 24 jam, terutama untuk kota-kota besar,” jelasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




