ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Shutdown AS Berlanjut, Dana Asing Masuk Indonesia Alami Peningkatan

Senin, 13 Oktober 2025 | 07:09 WIB
MF
MK
Penulis: Muhamad Ghafur Fadillah | Editor: MBK
Gedung Capitol AS difoto pada hari Jumat, 10 Oktober 2025, di Washington.
Gedung Capitol AS difoto pada hari Jumat, 10 Oktober 2025, di Washington. (AP/AP)

Jakarta, Beritasatu.com – Terjadinya government shutdown di Amerika Serikat (AS) justru menciptakan peluang bagi pasar obligasi Indonesia.

Ketidakpastian fiskal di ekonomi terbesar dunia itu mendorong sebagian investor global melakukan reposisi portofolio, termasuk ke aset berimbal hasil tinggi (high-yield emerging market bonds) seperti Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia.

Head of Fixed Income Analyst PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Ahmad Nasrudin menilai, dampak shutdown AS terhadap pasar obligasi domestik tidak bersifat langsung, tetapi tetap signifikan melalui sentimen global dan arus modal.

ADVERTISEMENT

Shutdown memang menimbulkan ketidakpastian, tetapi efeknya tidak serta-merta negatif bagi Indonesia. Dalam kondisi pasar global yang penuh tekanan, sebagian investor justru mencari alternatif dengan carry trade ke negara berkembang yang menawarkan yield menarik seperti Indonesia,” ujarnya kepada Beritasatu.com.

Data pasar menunjukkan, selama periode 6–9 Oktober 2025, investor asing mencatatkan net buy senilai Rp 5,14 triliun di pasar SBN, setelah pada minggu sebelumnya sempat melakukan aksi jual. Penguatan ini menunjukkan kepercayaan terhadap prospek makroekonomi Indonesia yang stabil di tengah volatilitas global.

Nasrudin menambahkan, potensi shutdown AS memicu penurunan yield Treasury AS, sehingga spread terhadap obligasi Indonesia kembali melebar. Kondisi ini memperkuat minat investor terhadap SBN, khususnya Surat Utang Negara (SUN) tenor menengah hingga panjang.

“Penurunan yield Treasury mempersempit selisih dan menciptakan potensi capital gain bagi SUN. Ditambah stabilitas rupiah dan inflasi yang terjaga, minat investor asing terhadap SBN masih cukup tinggi,” jelasnya.

Imbal hasil SUN tenor 10 tahun tercatat turun ke 6,115% pada akhir pekan lalu dari 6,315% pada pekan sebelumnya. Nasrudin memperkirakan yield akan bergerak di kisaran 6,0%–6,2% dalam jangka pendek dengan kecenderungan stabil, sejalan dengan ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan baik dari Bank Indonesia (BI) maupun The Federal Reserve (The Fed).

“Ruang penurunan yield masih terbuka jika The Fed benar-benar menghentikan siklus pengetatannya. Sementara itu, kondisi domestik yang solid, seperti inflasi rendah dan pertumbuhan ekonomi sekitar 5%, akan menjaga daya tarik obligasi Indonesia,” tambah Nasrudin.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Keuangan Memburuk, AS Disebut Terancam Bangkrut

Keuangan Memburuk, AS Disebut Terancam Bangkrut

EKONOMI
Elon Musk Tawarkan Bayar Gaji TSA Selama Shutdown Pemerintah AS

Elon Musk Tawarkan Bayar Gaji TSA Selama Shutdown Pemerintah AS

INTERNASIONAL
Tok! Trump Akhiri Shutdown Pemerintah AS Selama 4 Hari

Tok! Trump Akhiri Shutdown Pemerintah AS Selama 4 Hari

INTERNASIONAL
Shutdown Terpanjang Buat AS Rugi Rp 183 Triliun

Shutdown Terpanjang Buat AS Rugi Rp 183 Triliun

INTERNASIONAL
BI Sebut Ekonomi Dunia Bakal Melambat setelah Shutdown AS

BI Sebut Ekonomi Dunia Bakal Melambat setelah Shutdown AS

EKONOMI
Shutdown AS Berakhir: Akar Masalah hingga Terjalin Kesepakatan

Shutdown AS Berakhir: Akar Masalah hingga Terjalin Kesepakatan

INTERNASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon