Elon Musk Tawarkan Bayar Gaji TSA Selama Shutdown Pemerintah AS
Minggu, 22 Maret 2026 | 10:46 WIB
Washington, Beritasatu.com – CEO Tesla Elon Musk menawarkan untuk membayar gaji petugas Transportation Security Administration (TSA) yang belum menerima upah karena shutdown pemerintahan Amerika Serikat (AS).
Musk, melalui unggahan di X, menawarkan membayar gaji personel TSA selama kebuntuan pendanaan yang berdampak negatif pada kehidupan banyak warga Amerika di bandara di seluruh negeri.
Rata-rata gaji tahunan seorang petugas TSA sekitar US$ 51.000, dengan gaji awal US$ 40.270, sedangkan rata-rata gaji pemeriksa keamanan transportasi sedikit lebih dari US$ 61.000, menurut data Bureau of Labor Statistics.
Kekurangan staf mengakibatkan antrean panjang di bandara AS. Bahkan, Houston George Bush Intercontinental Airport melaporkan waktu tunggu hingga dua jam, sementara Hartsfield-Jackson Atlanta International Airport melaporkan antrean lebih dari satu jam di pos pemeriksaan utama dan utara.
CEO Tesla, Elon Musk, merupakan orang terkaya di dunia dengan perkiraan kekayaan bersih US$ 814,2 miliar. Ia berpotensi menjadi orang pertama dengan kekayaan US$ 1 triliun setelah pemegang saham Tesla menyetujui paket kompensasi pada November lalu yang bisa mencapai nilai tersebut jika Tesla mencapai beberapa target dalam 10 tahun ke depan.
Tahun lalu, Musk menjadi orang pertama yang memiliki kekayaan bersih US$ 400 miliar, 500 miliar, 600 miliar, 700 miliar, dan 800 miliar.
Apakah lebih banyak staf TSA akan absen akhir pekan ini? Seorang petugas TSA mengatakan kepada Forbes awal pekan ini bahwa akhir pekan menjadi “perfect storm” saat warga Amerika melakukan perjalanan musim liburan musim semi, sementara petugas TSA “tidak dibayar”.
Sekitar 40% staf absen di Hartsfield-Jackson Atlanta International Airport dan Houston George Bush Intercontinental, menurut data TSA. Para anggota legislatif gagal menyepakati pendanaan DHS, sehingga pembayaran untuk pekerja bandara AS terganggu selama beberapa minggu.
Selama shutdown pemerintah AS selama 43 hari tahun lalu, TSA melaporkan sekitar 1.110 petugas meninggalkan lembaga karena “ketidakpastian, stres, gaji tertunda, dan kesulitan finansial,” sementara pekan lalu DHS melaporkan sekitar 300 petugas TSA telah mengundurkan diri.
DHS menyalahkan Senat Demokrat atas antrean panjang dan petugas TSA yang belum menerima gaji, mengatakan banyak yang tidak bisa membayar sewa, membeli makanan, atau membeli bensin untuk mobil mereka.
Senator Demokrat sendiri berkilah bahwa mereka telah menawarkan pendanaan untuk masing-masing unit dalam lembaga, tetapi menolak mendanai ICE tanpa reformasi kebijakan dan pengawasan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Pendakian Gunung Gede Pangrango Dibuka Lagi pada 13 April 2026




