Indonesia Kaji Produksi BBM Hijau dari Komoditas Aren
Selasa, 11 November 2025 | 18:33 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Indonesia saat ini sedan melakukan kajian pengembangan bioetanol dari komoditas aren. Ke depan, produksi bioetanol dari aren tersebut akan digunakan untuk campuran bahan bakar minyak (BBM). Hal ini serupa dengan program B50 pada solar yang dicampur dengan crude palm oil (CPO).
Direktur Utama PT Pertamina Simon Aloysius Mantiri mengungkapkan, pihaknya sebagai badan usaha yang bergerak pada bisnis minyak dari hulu hingga hilir, mendukung upaya pengembangan bioetanol dari berbagai macam komoditas.
"Gula aren iya dan ada kajian (untuk pengembangan etanol)" ungkap Simon di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (11/11/2025).
Menurut Simon, pengembangan bioetanol sangat perlu dilakukan di dalam negeri. Hal ini karena Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi besar karena produk atau komoditas, seperti singkong, tebu, ubi, hingga aren mampu diolah menjadi bioetanol.
Saat ini, lanjut Simon, diversifkasi energi memang sedang digencarkan. Indonesia tak ingin hanya bertumpu pada energi-energi yang berbasis fosil.
Sebagai informasi, Pertamina saat ini telah memiliki produk bernama Pertamax Green 95. Produk tersebut diklaim lebih ramah lingkungan, karena memiliki nilai oktan sebesar 95 dan memiliki campuran bioetanol sekitar 5%.
Pertamina, kata Simon, tak menutup kemungkinan akan ada bioetanol dari aren dan akan digunakan untuk produksi Pertamax Green.
"Nanti kita coba ya. Tentunya dari ini proyek-proyek yang sudah dikerjakan, itu memang memungkinkan," bebernya.
Pada kesempatan yang sama, bos Pertamina itu juga menegaskan pihaknya siap mendukung program Kementerian ESDM yang akan mewajibkan BBM di dalam negeri dicampur dengan etanol.
PT Pertamina bersama stakeholder terkait memastikan siap mematangkan kesiapan infrastruktur dan teknologi, sejalan dengan adanya terobosan pemerintah melalui Kementerian ESDM yang akan mengembangkan bahan bakar minyak (BBM) dengan campuran etanol sebesar 10% alias E10.
Simon menambahkan, pihaknya akan mendukung upaya-upaya pemerintah dalam mewujudkan ketahanan energi dan penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. Namun, ia juga membeberkan, kesiapan penerapan E10 tidak hanya dilakukan oleh badan usaha penyalur BBM tetapi juga para pelaku di industri otomotif.
"Keputusan pemerintah bersama dengan seluruh stakeholders dan yang terpenting adalah penyiapan infrastruktur, begitu juga dari kita sisi teknologi kita dorong," ungkap Simon.
Dirinya meyakin ada dua dampak pengembangan etanol atau bioetanol, tentu baik untuk konsumsi domestik. Pertama, penggunaan bahan bakar yang lebih hijau tentu akan berkontribusi dalam menekan emisi nasional.
Kedua, dengan adanya program penggunaan campuran bioetanol, tentu akan mengurangi volume impor BBM Indonesia. Diketahui, konsumsi BBM domestik sangat besar, dan masih bergantung terhadap impor.
Ia mengaku cukup optimistis perihal program pengembangan bioetanol di Tanah Air. Terlebih raksasa otomotif asal Jepang telah mengutarakan minatnya untuk berinvestasi di dalam negeri.
"Jadi sambil berjalanlah, semua kan kebijakan ini yang menyangkut masyarakat banyak dan tentunya harus sama-sama kita kaji dan kita dorong," pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




