Hilirisasi Jadi Kunci Indonesia Keluar dari Jebakan Middle Income
Senin, 15 Desember 2025 | 11:24 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menegaskan bahwa kebijakan hilirisasi sumber daya alam (SDA) menjadi pilar utama transformasi ekonomi nasional agar Indonesia mampu keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah dan beralih menjadi negara industri yang mandiri.
Indonesia, menurut Rosan, memiliki keunggulan komparatif yang kuat karena memimpin produksi berbagai komoditas strategis dunia.
“Kita adalah pemimpin global di beragam komoditas strategis seperti nikel dan kelapa sawit yang menempati posisi teratas serta komoditas lainnya seperti timah dan bauksit. Sumber daya ini menempatkan kita di jantung transisi energi global,” kata Rosan dikutip dari Antara, Senin (15/12/2025)
Pandangan tersebut disampaikan Rosan dalam sejumlah kesempatan terkait penguatan kebijakan hilirisasi, termasuk saat memberikan pandangan terhadap buku Indonesia Naik Kelas karya Wakil Direktur Utama MIND ID Dany Amrul Ichdan.
Buku tersebut dinilai menyajikan peta jalan strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan hingga 8 persen, selaras dengan visi besar Indonesia Emas 2045.
Rosan menuturkan, Indonesia saat ini merupakan kekuatan ekonomi terbesar di kawasan Asia Tenggara. Di tengah ketidakpastian global, perekonomian nasional tetap mampu tumbuh di kisaran 5 persen, mencerminkan arah kebijakan yang berada di jalur positif.
Ia menegaskan, salah satu faktor penopang utama kinerja tersebut adalah kebijakan hilirisasi komoditas strategis. Hilirisasi kini tidak lagi diposisikan sebagai program sektoral, melainkan sebagai strategi kedaulatan ekonomi untuk memperkuat rantai nilai dan memperbaiki struktur ekonomi nasional.
Sepanjang Januari hingga September 2025, sektor hilir tercatat berhasil menarik investasi sebesar Rp 431 triliun atau lebih dari 30% dari total realisasi investasi nasional, dengan pertumbuhan mencapai 58,1% secara tahunan.
Rosan, yang juga menjabat sebagai CEO Danantara Indonesia, menambahkan bahwa untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8% dalam lima tahun ke depan, Indonesia membutuhkan investasi sekitar US$ 815 miliar.
Menurutnya, target tersebut hanya dapat dicapai melalui transformasi struktural ekonomi dan tidak bisa semata-mata bergantung pada konsumsi domestik.
Dalam kerangka itu, pemerintah berfokus menarik investasi berkualitas yang mampu meningkatkan produktivitas, mendorong alih teknologi, serta memperkuat rantai nilai di dalam negeri.
“Kami juga mendorong reformasi fiskal dan pajak daya saing, menjadikan pajak sebagai insentif untuk mendorong inovasi dan transisi hijau,” pungkas Rosan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




