ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

BI Rate Turun, OJK Ingatkan Tantangan Imbal Hasil Dana Pensiun 2026

Sabtu, 3 Januari 2026 | 15:10 WIB
AH
AD
Penulis: Akmalal Hamdhi | Editor: AD
Ilustrasi OJK.
Ilustrasi OJK. (BeritaSatu Photo/Uthan A Rachim)

Jakarta, Beritasatu.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan potensi tekanan terhadap imbal hasil investasi dana pensiun seiring tren penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate). Kondisi tersebut menjadi tantangan utama bagi industri dana pensiun dalam mengelola portofolio investasi pada 2026.

Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono, mengatakan industri dana pensiun, baik dari program pensiun wajib maupun sukarela, masih berpeluang mencatat pertumbuhan double digit. Namun, dinamika pasar keuangan dan arah kebijakan suku bunga perlu dicermati karena dapat memengaruhi kinerja investasi.

“Penurunan tingkat suku bunga acuan akan berdampak pada potensi penurunan tingkat imbal hasil investasi yang diperoleh dana pensiun. Oleh karena itu, strategi alokasi aset yang optimal menjadi tantangan di tengah pergerakan pasar keuangan yang sangat dinamis,” ujar Ogi dalam keterangan tertulis, dikutip Minggu (28/12/2025). 

ADVERTISEMENT

Berdasarkan data per Oktober 2025, total aset industri dana pensiun (dapen) sebesar Rp 1.647,49 triliun atau tumbuh 9,82% dibanding periode yang sama 2024 sebesar Rp 1.500,18 triliun.

Sementara itu, tren return on investment (ROI) tahunan dana pensiun hingga Oktober 2025 tercatat meningkat 1,45 persen secara tahunan (year on year), dengan posisi ROI mencapai 7,03%. Capaian ini menunjukkan kinerja investasi dana pensiun masih terjaga di tengah dinamika pasar keuangan.

Dalam struktur investasinya, penempatan dana pensiun pada instrumen Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tercatat sebesar Rp 4,09 triliun atau sekitar 1,06% dari total investasi. Penurunan porsi SRBI sejalan dengan berkurangnya penerbitan instrumen tersebut sepanjang 2025.

Meski demikian, Ogi menegaskan pengelolaan portofolio investasi dana pensiun harus tetap disesuaikan dengan profil risiko dan liabilitas masing-masing program. Selain itu, meskipun penempatan pada SRBI turun, namun masih berpotensi diminati sebagai instrumen jangka pendek berisiko rendah dengan imbal hasil yang kompetitif.

Lebih lanjut, OJK mencatat nilai investasi dana pensiun di saham mencapai Rp 24,66 triliun atau 6,37% dari total investasi. Adapun investasi pada asuransi tercatat sebesar Rp 134,42 triliun, atau sekitar 18% dari total investasi.

"Membaiknya kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) berpotensi meningkatkan kepercayaan investor terhadap instrumen saham, termasuk bagi asuransi dan dana pensiun," tutur Ogi.

Meski peluang investasi terbuka, ia menegaskan bahwa pengelolaan portofolio investasi pada asuransi dan dana pensiun harus tetap mengacu pada ketentuan yang berlaku, mengedepankan prinsip kehati-hatian, serta memperhatikan kesesuaian antara profil risiko dan profil liabilitas.

Ke depan, OJK mendorong dana pensiun untuk terus mengoptimalkan strategi alokasi aset. Selain itu, Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) juga didorong meningkatkan edukasi kepada peserta agar pemilihan instrumen investasi selaras dengan profil risiko dan kebutuhan jangka panjang, sehingga kinerja investasi dapat lebih optimal dan berkelanjutan.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon