ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Indonesia Hentikan Impor Avtur mulai 2027

Senin, 12 Januari 2026 | 21:10 WIB
CS
H
Penulis: Celvin Moniaga Sipahutar | Editor: HE
Peresmian proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin, 12 Januari 2026.
Peresmian proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin, 12 Januari 2026. (Istimewa)

Balikpapan, Beritasatu.com - Pemerintah menargetkan Indonesia dapat menghentikan impor bahan bakar pesawat atau avtur mulai 2027. Target tersebut menjadi bagian dari upaya besar memperkuat kemandirian dan ketahanan energi nasional.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan, langkah ini akan ditempuh setelah pemerintah berhasil menghentikan impor solar pada 2026.

“Untuk solar, alhamdulillah atas perintah Bapak Presiden Prabowo Subianto, mulai sekarang kita bicara ke depan tidak ada lagi impor solar. Termasuk avtur, insyaallah pada 2027 kita juga tidak lagi melakukan impor,” ujar Bahlil saat meninjau Kilang Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1/2026).

ADVERTISEMENT

Bahlil menegaskan, kebijakan tersebut merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto sebagai bagian dari upaya menjaga kedaulatan energi nasional. Langkah ini sejalan dengan amanat Pasal 33 ayat 2 Undang-Undang Dasar 1945, yang menegaskan bahwa cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menyangkut hajat hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara.

Keputusan berani menghentikan impor BBM didukung oleh peningkatan kapasitas Kilang Balikpapan melalui proyek Refinery Development Master Plan (RDMP). Kilang terbesar di Indonesia itu kini memiliki kapasitas pengolahan hingga 360.000 barel per hari, meningkat signifikan dari sebelumnya 260.000 barel per hari.

Dengan kapasitas tersebut, Kilang Balikpapan mampu memenuhi sekitar 25% kebutuhan bahan bakar minyak nasional. Proyek strategis nasional ini menelan investasi sebesar US$ 7,4 miliar atau setara Rp 123 triliun dan dikelola oleh PT Kilang Pertamina Internasional (KPI).

Bahlil menegaskan, penguatan kapasitas kilang dalam negeri menjadi fondasi utama untuk memutus ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM secara bertahap. Ia juga mengatakan, pemerintah tidak akan gentar menghadapi berbagai tekanan, termasuk kritik di media sosial.

“Setelah ini pasti ramai di media sosial, karena dianggap menteri ESDM memutus jalur para importir. Namun, tidak ada masalah. Demi Merah Putih, jangankan harta, nyawa pun kami siap berikan,” tegas Bahlil.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon