Langkah Panjang Indonesia Menuju Swasembada Energi
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:35 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto terus bermimpi untuk bisa mencapai swasembada energi. Swasembada energi juga termaktub dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada poin kedua.
Poin itu bertuliskan memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau dan ekonomi biru.
Presiden ke-8 itu juga menyebut bahwa Indonesia tidak akan lama lagi bisa mencapai swasembada energi. Hal itu ia ungkapkan setelah berbincang dengan para pakar.
“Saya diberitahu oleh para pakar bahwa bangsa kita ini sungguh-sungguh bisa swasembada energi dan hitungan saya tidak lama, tidak lama. Lima tahun paling melambat enam tahun, tujuh (tahun) kita bisa swasembada energi,” ucap Prabowo pada Juni 2025 lalu.
Memasuki awal 2026, tampaknya upaya swasembada energi yang dicita-citakan Prabowo semakin terlihat. Hal ini karena Prabowo meresmikan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan dengan nilai investasi mencapai US$ 7,4 miliar atau sekitar Rp 123 triliun di Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1/2026).
Proyek ini dipandang sebagai langkah strategis pemerintah untuk menekan ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM) sekaligus memperkuat ketahanan dan kedaulatan energi nasional.
“Dengan mengucap bismillahhirahmanirrahim pada sore hari ini, Senin, 12 Januari 2026, saya Prabowo Subianto, presiden Republik Indonesia dengan ini meresmikan infrastruktur energi terintegrasi Pertamina RDMP Balikpapan,” kata Prabowo dalam seremoni peresmian.
Kapasitas Kilang Naik, Impor BBM Ditekan
Keberadaan RDMP Balikpapan meningkatkan kapasitas pengolahan kilang dari sekitar 260.000 barel per hari menjadi 360.000 barel per hari. Kapasitas tersebut setara dengan hampir seperempat kebutuhan BBM nasional, sehingga memberi dampak signifikan terhadap pasokan energi domestik.
“Saya bahagia dan bangga hari ini satu langkah lagi di bidang energi kita menuju mandiri, berdiri di atas kaki kita sendiri. Kita tak boleh bergantung energi kita dari luar,” ucap Prabowo.
Dengan tambahan kapasitas tersebut, produksi solar nasional diperkirakan meningkat hingga surplus sekitar 3 juta-4 juta kiloliter per tahun. Pemerintah pun memastikan Indonesia tidak lagi mengimpor solar mulai 2026, sebuah capaian penting dalam perjalanan panjang menuju swasembada energi.
Akhiri Penantian 32 Tahun Infrastruktur Kilang
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan peresmian RDMP Balikpapan menandai berakhirnya penantian panjang selama 32 tahun pengembangan infrastruktur kilang nasional. Menurutnya, proyek ini menjadi bukti nyata keseriusan pemerintah mewujudkan target swasembada energi.
"Jadi dalam sejarah bangsa pascaorde lama, cuma dua presiden yang meresmikan RDMP. Satu adalah Presiden Pak Soeharto terakhir pada 1994 dan 32 tahun kemudian Presiden Prabowo Subianto meresmikan RDMP pada 2026," ungkap Bahlil.
Ia menegaskan, peresmian RDMP Balikpapan selaras dengan visi Asta Cita Presiden Prabowo, khususnya pada poin swasembada energi.
Pemerintah, kata dia, akan terus mendorong sinergi lintas kementerian, BUMN seperti Pertamina, serta sektor swasta untuk mempercepat pembangunan sistem energi berkelanjutan.
Produksi Minyak Bangkit Setelah Satu Dekade
Pada kesempatan yang sama, Bahlil melaporkan kebangkitan produksi minyak nasional setelah satu dekade tak mencapai target. Untuk pertama kalinya dalam 10 tahun terakhir, lifting minyak Indonesia berhasil memenuhi bahkan melampaui target APBN.
"Bapak Presiden, sejak 10 tahun terakhir lifting kita enggak pernah tercapai. Baru pada 2025, lifting minyak kita mencapai bahkan melampaui target APBN sebesar 605.000 barel per hari. Pada 2024, kita hanya mencapai 580.000 barel. Insyaallah pada 2026 ini akan kita tingkatkan lagi," kata Bahlil.
Peningkatan tersebut didorong oleh aktivasi sumur-sumur idle, penerapan teknologi di sumur tua, serta percepatan tender lapangan minyak baru dan langkah-langkah yang memperkuat fondasi swasembada energi dari sisi hulu.
Banyak Pihak Tak Rela Indonesia Swasembada Energi
RDMP Balikpapan merupakan proyek modernisasi kilang yang mencakup sistem penerimaan minyak mentah, jaringan pipa, hingga proses pengolahan berteknologi mutakhir. Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dibangun sejak 2019 ini menjadi tulang punggung baru ketahanan energi nasional.
Namun, Bahlil mengakui perjalanan proyek tidak mulus. Ia bahkan menyebut adanya dugaan sabotase yang membuat proyek sempat tertunda.
"Proyek RDMP ini banyak dramanya. Saya harus jujur katakan, banyak dramanya. Kenapa? Seharusnya sudah jadi awal Mei 2024," ungkapnya.
Salah satu kendala utama adalah insiden kebakaran pada Mei 2024. Evaluasi internal Kementerian ESDM mengindikasikan adanya faktor nonteknis.
"Ini pak, terbakar. Ada bagian yang dibakar. Saya tidak mengerti apakah dibakar karena terbakar atau dibakar karena ada faktor lain," ujar Bahlil.
Ia menilai masih ada pihak yang tidak rela Indonesia lepas dari ketergantungan impor BBM.
“Ternyata barang ini pak, ‘ada udang di balik batu’. Masih ada pihak-pihak yang tidak rela kalau kita itu mempunyai cadangan dan swasembada energi,” tegasnya.
Indonesia Resmi Swasembada Solar
Pemerintah menyatakan Indonesia telah mencapai swasembada solar setelah RDMP Balikpapan beroperasi. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan kebutuhan solar dalam negeri kini dapat dipenuhi dari produksi nasional.
“Dengan diresmikan RDMP kemarin oleh Bapak Presiden (Prabowo Subianto), maka kita tidak perlu impor solar lagi,” ujar Airlangga.
Ia menambahkan, capaian tersebut menjadi tonggak penting swasembada energi dan fondasi untuk meningkatkan kemandirian energi di sektor lain. “Jadi kita sudah swasembada di bidang solar dan tentu kita akan terus tingkatkan untuk energi yang lain,” katanya.
Target ke Depan Stop Impor Bensin Menuju Swasembada Total
Pemerintah menargetkan penghentian impor avtur mulai 2027, menyusul keberhasilan menghentikan impor solar pada 2026. Bahlil menegaskan langkah ini merupakan arahan langsung Presiden Prabowo sebagai bagian dari kedaulatan energi nasional.
“Untuk solar, alhamdulillah atas perintah Bapak Presiden Prabowo Subianto, mulai sekarang kita bicara ke depan tidak ada lagi impor solar. Termasuk avtur, insyaallah pada 2027 kita juga tidak lagi melakukan impor,” ujar Bahlil.
Selain itu, pemerintah membuka peluang menghentikan impor bensin RON 92, RON 95, dan RON 98 pada 2027 jika kapasitas produksi domestik mencukupi.
“Kalau semuanya ini (RON 92, RON 95, dan RON 98) produknya sudah ada, itu berarti kita sudah tidak perlu impor lagi,” kata Bahlil.
Ia menegaskan, jika produksi telah mencukupi, SPBU swasta akan membeli BBM dari Pertamina. “Jadi, silakan beli di Pertamina, tetapi selama kapasitas produksi kita masih kurang dibandingkan konsumsi, maka tetap kita sementara impor harus dilakukan,” ujarnya.
Dengan RDMP Balikpapan sebagai tulang punggung, pemerintah optimistis Indonesia kian dekat menuju swasembada energi dan menjadi fondasi penting bagi kedaulatan ekonomi dan ketahanan nasional jangka panjang.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




