Ada Andil Donald Trump di Balik Rekor Harga Emas dan Perak
Kamis, 15 Januari 2026 | 14:48 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Gejolak kebijakan Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya ketegangan geopolitik di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump telah menciptakan dorongan baru bagi reli harga emas dan perak. Serangkaian kebijakan terkait suku bunga, tarif, dan isu geopolitik dalam beberapa pekan terakhir mendorong investor beralih ke logam mulia dan logam industri sebagai aset lindung nilai.
Dilansir dari Business Insider, Kamis (15/1/2026), sejak awal 2026, harga emas telah menguat sekitar 5%, sementara harga perak melonjak tajam hingga 25%. Kenaikan signifikan ini mencerminkan kembalinya strategi investasi yang dikenal sebagai “debasement trade”, yaitu kecenderungan investor membeli aset seperti emas dan perak karena kekhawatiran nilai dolar AS dan mata uang lainnya berpotensi terdepresiasi.
Presiden Donald Trump dinilai berperan besar dalam mendorong reli parabolik yang membawa harga emas dan perak ke level yang lebih tinggi. Berbagai peristiwa geopolitik serta inisiatif kebijakan terkait suku bunga yang diluncurkan Trump dalam beberapa pekan terakhir membuat investor semakin mencari perlindungan pada aset safe haven.
Lonjakan harga terbaru dalam beberapa hari terakhir ini menandai fase baru dari debasement trade. Dalam strategi ini, investor mengalihkan dana ke emas dan perak karena menurunnya kepercayaan terhadap aset berbasis dolar AS.
Pasar sebenarnya telah melihat gejala awal tren ini pada tahun lalu, ketika kebijakan tarif Trump memicu kepanikan di pasar saham dan obligasi AS, serta mendorong arus modal ke aset penyimpan nilai seperti emas.
Setelah menutup tahun 2025 dengan kinerja terbaik dalam beberapa dekade, harga emas kembali melanjutkan tren penguatan dengan kenaikan sekitar 5% sepanjang tahun berjalan. Sementara itu, perak yang juga mencatatkan performa terbaik sejak 1979 pada tahun lalu, melonjak 25% sepanjang tahun ini, menjadikannya awal tahun terbaik sepanjang sejarah bagi logam tersebut.
Di sisi lain, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama dunia, tercatat melemah sekitar 1% dari level puncaknya pada November 2025. Pelemahan dolar ini semakin memperkuat daya tarik emas dan perak sebagai alternatif investasi.
Serangkaian peristiwa sepanjang Januari 2026 menunjukkan dengan jelas alasan di balik pergeseran sentimen investor tersebut. Pada 3 Januari 2026, Amerika Serikat melakukan operasi di Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro. Setelah peristiwa tersebut, harga emas melonjak lebih dari 2% pada perdagangan Senin berikutnya, sementara harga perak naik sekitar 5%.
Selanjutnya, pada 9 Januari 2025, Trump menyatakan akan membatasi suku bunga kartu kredit maksimal 10% selama satu tahun. Usulan ini dinilai oleh para pakar industri keuangan berpotensi menimbulkan berbagai konsekuensi bagi konsumen. Menyusul pernyataan tersebut, harga emas naik 1%, sedangkan perak menguat sekitar 4%.
Pada 11 Januari 2026, Departemen Kehakiman AS membuka penyelidikan pidana terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell. Trump menyatakan tidak mengetahui adanya penyelidikan tersebut, meski selama bertahun-tahun ia kerap menekan bank sentral AS untuk memangkas suku bunga. Hal ini membuat harga emas melonjak hampir 2% pada awal pekan ini, sementara perak naik sekitar 2%.
Ketegangan semakin meningkat pada 12 dan 13 Januari 2026, ketika Trump menyatakan akan mengenakan tarif 25% terhadap negara-negara yang melakukan bisnis dengan Iran. Sehari kemudian, ia menegaskan Amerika Serikat akan mengambil tindakan sangat keras apabila Iran membunuh para demonstran. Sejak 12 Januari 2026, harga emas naik sekitar 1%, sementara harga perak melonjak tajam hingga 10%.
Ekonom senior Interactive Brokers, José Torres, menilai pergerakan ini mencerminkan kembalinya sentimen “sell America” (aksi mengurangi atau menjual aset Amerika Serikat), yang terlihat dari aksi jual obligasi AS dan melemahnya nilai dolar.
“Ada indikasi kembalinya perdagangan ‘sell America’ seperti yang kita lihat pada paruh pertama tahun lalu,” tulis Torres, merujuk pada pola serupa di pasar logam mulia, obligasi, dan saham saat Trump pertama kali memperkenalkan tarif resiprokal pada April 2025.
Kali ini, investor dinilai semakin khawatir terhadap ketegangan geopolitik dan potensi inflasi di masa depan, terutama apabila Trump terus menekan Federal Reserve untuk memangkas suku bunga terlalu dini.
“Selain meningkatnya kekhawatiran investor terhadap potensi depresiasi mata uang dan inflasi di masa depan, pergerakan ini juga didukung oleh ketidakpastian geopolitik yang terus berlanjut,” tulis analis Deutsche Bank dalam catatan mereka terkait lonjakan harga emas dan perak.
Reli harga logam mulia juga diperkuat oleh faktor lain. Harga emas dalam beberapa tahun terakhir didukung oleh permintaan kuat dari bank sentral global, yang terus menambah cadangan emas sebagai bagian dari upaya diversifikasi dan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Sementara itu, perak semakin dikaitkan dengan tren kecerdasan buatan (AI), seiring meningkatnya kesadaran investor terhadap peran logam tersebut dalam pusat data dan infrastruktur teknologi. Harga perak juga terdorong oleh tekanan pasokan serta aktivitas perdagangan spekulatif di China.
Pergerakan harga emas dunia ini juga ikut mengerek harga emas batangan Antam. Pada hari ini, Kamis (15/1/2026), harga emas Antam telah mencapai Rp 2,675 juta per gram yang merupakan rekor tertinggi sepanjang masa. Begitu juga dengan perak Antam yang telah menembus Rp 57.700 per gram.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




