Harga Perak Jumat 23 Januari 2026 Cetak Rekor Baru Tembus US$ 96
Jumat, 23 Januari 2026 | 07:50 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Harga perak dunia melanjutkan reli tajam dengan menembus rekor tertinggi baru di atas US$ 95 per ons pada Kamis (22/1/2026). Lonjakan harga ini terjadi di tengah meningkatnya permintaan investasi, konsumsi industri yang solid, serta keterbatasan pasokan fisik global.
Hingga Jumat (23/1/2026) pagi, harga perak semakin melesat hingga naik 0,54% dari posisi sebelumnya hingga berada di level US$ 96. Harga perak telah melonjak sekitar 31% selama 2026, melanjutkan reli hampir 150% sepanjang 2025.
Chief Strategist BCA Research Roukaya Ibrahim mengatakan, kenaikan harga perak saat ini sudah memasuki fase jenuh beli. Meski prospek jangka menengah dan panjang masih dinilai positif, ia menilai investor perlu lebih berhati-hati mengejar harga di level tinggi.
“Kami masih memandang prospek makro dan geopolitik memberikan dukungan bagi harga perak dalam jangka menengah dan panjang. Terlebih, kami telah bersikap bullish terhadap perak dalam matriks komoditas kami selama setahun terakhir,” ujar Ibrahim dalam laporannya.
Pada sisi lain, besarnya lonjakan harga terbaru sulit dibenarkan secara fundamental. Perak dan logam mulia lainnya secara umum menunjukkan tanda-tanda pembelian berbasis FOMO.
Menurut Ibrahim, reli harga perak belakangan ini semakin didorong oleh spekulasi pasar, yang berpotensi tidak berkelanjutan. Ia menilai sebagian sentimen positif, seperti inflasi global dan ketidakpastian geopolitik, sudah tercermin dalam harga.
Ia juga menepis kekhawatiran terkait kebijakan ekspor perak China yang dinilai memperparah kelangkaan pasokan global.
“Pada dasarnya tidak ada perubahan dalam kebijakan ekspor perak China. Kewajiban eksportir untuk memperoleh lisensi hanyalah kelanjutan dari kebijakan tahun-tahun sebelumnya,” kata Ibrahim.
Pada sisi lain, belum adanya tarif langsung atas impor perak ke Amerika Serikat (AS) dinilai dapat membantu memperbaiki kondisi pasar global. Namun, ketidakpastian kebijakan perdagangan AS masih berpotensi menahan normalisasi pasar.
“Pemerintah AS masih membuka kemungkinan penerapan tarif di masa depan jika kesepakatan yang memuaskan tidak tercapai dalam waktu dekat,” ucap dia.
Meski harus bersikap hati-hati terhadap perak, BCA Research tetap memandang emas memiliki profil risiko-imbal hasil yang lebih menarik. Ibrahim memperkirakan rasio emas terhadap perak berpotensi kembali meningkat setelah sempat turun ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir.
“Emas memiliki profil risiko dan imbal hasil paling menarik di antara logam mulia. Emas akan terus diuntungkan oleh permintaan safe haven serta upaya bank sentral negara berkembang dalam mendiversifikasi cadangan devisa,” pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




