OJK dan ADB Perkuat Obligasi Berkelanjutan di Kawasan ASEAN+3
Selasa, 3 Februari 2026 | 14:11 WIB
Yogyakarta, Beritasatu.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Asian Development Bank (ADB) terus mendorong penguatan pembiayaan berkelanjutan melalui pengembangan pasar obligasi di kawasan ASEAN+3, khususnya obligasi berdenominasi mata uang lokal.
Inisiatif tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Kelompok Spesialis Pasar Modal OJK Retno Ici saat membuka rangkaian 45th ASEAN+3 Bond Market Forum (ABMF) Meeting and Other Events di Yogyakarta, Senin (2/2/2026).
“Kehadiran bersama regulator, pelaku pasar, investor, akademisi, serta perwakilan organisasi internasional dalam konferensi ini mencerminkan komitmen bersama untuk mendorong pasar modal yang tangguh, inklusif, dan berorientasi ke masa depan,” ujar Retno.
Retno menyebut komitmen tersebut mencakup penerapan prinsip keuangan berkelanjutan serta pemahaman atas dinamika pasar obligasi. Ia menjelaskan, OJK telah memperkuat kerangka pembiayaan berkelanjutan melalui penerbitan POJK Nomor 18 Tahun 2023 tentang penerbitan obligasi dan sukuk berkelanjutan.
Selain itu, OJK telah melakukan penyusunan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) guna menyelaraskan pembiayaan nasional dengan standar internasional. Ia mengungkap pengembangan pasar obligasi mata uang lokal dinilai penting untuk mengurangi risiko nilai tukar.
Retno menyebut upaya itu juga memperluas sumber pendanaan jangka panjang, sekaligus meningkatkan ketahanan ekonomi kawasan. Hingga akhir Desember 2025, OJK mencatat nilai outstanding obligasi dan sukuk korporasi berkelanjutan di Indonesia telah mencapai Rp 54,94 triliun atau setara US$ 3,28 miliar.
Sementara itu, Direktur Strategi Pembiayaan dan Investasi Pembangunan Kementerian PPN/Bappenas, Mada Dahana, mengatakan keuangan berkelanjutan menjadi bagian penting dalam strategi pembangunan nasional. Khususnya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif sekaligus mencapai Sustainable Development Goals (SDGs).
Menurut Mada, pemerintah telah mengembangkan berbagai instrumen pembiayaan, seperti sukuk, obligasi tematik (obligasi SDGs dan obligasi biru), serta skema pembiayaan gabungan (blended finance). Meski demikian, keterbatasan kapasitas pendanaan masih menjadi tantangan utama sehingga kolaborasi lintas sektor sangat diperlukan.
Forum ABMF yang digelar OJK bersama ADB bertujuan mendorong integrasi pasar obligasi ASEAN+3 melalui harmonisasi regulasi, praktik pasar, dan infrastruktur transaksi lintas negara. Kegiatan ini berlangsung pada 2–4 Februari 2026 dan diikuti sekitar 200 peserta dari negara anggota ASEAN+3 serta pemangku kepentingan kawasan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




